Awan
terlihat gelap saat itu . Rinai hujan berjatuhan menarik aroma tanah hingga
meruap melebur dengan nuansa kota. Sedap
sekali di penciumanku. Aku berlari kecil, sesegera mungkin mencari tempat
berteduh sebelum tetesan air dari langit itu
membasahi kertas-kertas wadah imajinasiku yang sedang aku peluk di dada.
Angin berhembus ringan ketika aku baru saja menemukan tempat berteduh, di halte
bus. Tak ada seorangpun di sana kecuali aku.
Hujan
makin deras sesekali Guntur bergemuruh. Di bawah hujan sana pengendara motor
bermantel tetap melaju, begitupun dengan
transportasi lain. Aku termangu , mungkin baiknya aku kembali menulis. Kupangku kertas-kertasku yang menempel di clipboard---papan
klip kemudian ku rogoh penaku yang tersimpan di tas. Aku mulai menulis
imajinasiku, rasanya senang sekali menulis dalam suasana hujan. Tapi belum
sampai aku menulis satu paragraf cerita,
seorang lelaki datang menepi dari hujan. Ia mengibaskan tangan pada bagian
bajunya yang basah. Topi hitam yang dikenakannyapun dilepasnya. Setelah
kuperhatikan lelaki jangkung itu, aku
baru menyadari sesuatu dan di detik itu aritmiku terjadi, apalagi saat pemuda
berkacamata minus itu menoleh ke arahku dan ia terlihat sedikit kaget. Mungkin
ia masih ingat dengan wajah ini, setelah sepuluh tahun lamanya tidak bertemu.
Dia mendekat padaku, tentu saja mengalihkan pandangannya ke tempat duduk . aku
kembali menulis selagi hujan belum reda, walau sesungguhnya imajinasiku telah
enyah berganti kisah masa lalu.
Tiba-tiba
saja kilat berkelebat, kekagetanku berdampak pada jantungku yang
berdetak lebih cepat. Dan aku mulai takut terjebak lama di halte bus ini, kalau
bus yang kutunggu pun belum juga datang. Kulihat langit tetap kelabu, hujan
yang tak kunjung usai ini mengundang dingin yang mulai mencium kulitku.
“Sebentar
lagi hujan pasti reda” reflek ku menoleh pada asal suara di sampingku. Lelaki
itu tetap memandangku.
“ Kamu Rima bukan ???” tanyanya
memastikan, aku jadi kikuk , ternyata dia masih mengingatku
“ Kau terlihat khawatir“ ucapnya, kemudian memalingkan pandangan pada
hujan yang mulai memelan seraya
tersenyum.
“ Kau masih mengingatku Rama??” tanyaku
ragu-ragu. saat itu aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
“Hem, ku pikir kau yang lupa padaku setelah
lama pergi dari rantau bapakmu.” Tukasnya sembari melempar senyum.
(kau
puisi dan aku penulis mana mungkin aku lupa padamu ).
“
Kau menulis apa dari tadi? “
“Imajinasi”
“Karyamu bagus”
“Tahu dari mana??”
Dia hanya diam sembari memandang hujan,
sedangkan aku masih menatapnya. Menunggu jawaban.
“Ya,
baca” jawabnya yang kemudian menoleh
ke arahku. Pandangan kami terserobok lebih dekat dari yang sebelumnya, sepuluh
tahun yang lalu.
Aku
segera mengalihkan pandangan. Mendengar pujiannya aku hanya tersenyum simpul,
dalam hati pun merasa senang. Mungkin Rama telah membaca tulisanku yang telah
terbit tahun lalu “ Renjana ” peristiwa kecil antara aku dan Rama yang
ku gubah jadi fiksi, atau mungkin ia membaca karangan-karanganku yang
sebelumnya.
“ Apa kabar pulaumu?? ”tanyanya. Membuyarkan
pikiranku yang mulai liar.
“ Sudah jadi Provinsi ” jawabku singkat.
“ Hem “ gumamnya sembari manggut-manggut.
Ku lihat hujan mulai reda menyisakan
rentetan cerita dalam ilusi.
“ Rima “
“ Ya? “
“ Terima kasih sudah mengingatku “ hatiku berdesir
“ Tentu saja aku tak akan lupa, kau…………….” Kemudian Rama
menyela kalimatku
“ Puisi, dan dirimu adalah penulis, kau takkan
pernah melupakan aku “ aku tak tau
mengapa Rama tahu apa yang hendak ku katakana tanpa ragu. Kutatap lekat matanya
yang berbinar. Mencoba menyelami nada-nada hatiku yang sukar untuk paham.
Ketika bus yang akan ku tumpangi
tiba, aku baru sadar Rama telah menghilang. Hanya sisa tetes air hujan yang
tertinggal bersamaku. Argh………..mengapa kau tak kunjung percaya Rima, Rama sudah
pulang ketika aku melihatnya di sini.
05012016
Kalau kata Mohamad Diponegoro, intro yang seperti di atas itu sudah terlalu biasa, jadi bikin pembaca tidak tertarik. Lalu, bagaimana cara? Lukiskan pemandangan alam secara lebih natural, jangan berlebihan
BalasHapus