Flag Counter

Selasa, 25 Oktober 2016

Sisa Hujan di Halte Bus

                                  
Awan terlihat gelap saat itu . Rinai hujan berjatuhan menarik aroma tanah hingga meruap  melebur dengan nuansa kota. Sedap sekali di penciumanku. Aku berlari kecil, sesegera mungkin mencari tempat berteduh sebelum tetesan air dari langit itu  membasahi kertas-kertas wadah imajinasiku yang sedang aku peluk di dada. Angin berhembus ringan ketika aku baru saja menemukan tempat berteduh, di halte bus. Tak ada seorangpun di sana kecuali aku.
Hujan makin deras sesekali Guntur bergemuruh. Di bawah hujan sana pengendara motor bermantel  tetap melaju, begitupun dengan transportasi lain. Aku termangu , mungkin baiknya aku kembali menulis. Kupangku  kertas-kertasku yang menempel di clipboard---papan klip kemudian ku  rogoh penaku  yang tersimpan di tas. Aku mulai menulis imajinasiku, rasanya senang sekali menulis dalam suasana hujan. Tapi belum sampai aku menulis satu paragraf  cerita, seorang lelaki datang menepi dari hujan. Ia mengibaskan tangan pada bagian bajunya yang basah. Topi hitam yang dikenakannyapun dilepasnya. Setelah kuperhatikan  lelaki jangkung itu, aku baru menyadari sesuatu dan di detik itu aritmiku terjadi, apalagi saat pemuda berkacamata minus itu menoleh ke arahku dan ia terlihat sedikit kaget. Mungkin ia masih ingat dengan wajah ini, setelah sepuluh tahun lamanya tidak bertemu. Dia mendekat padaku, tentu saja mengalihkan pandangannya ke tempat duduk . aku kembali menulis selagi hujan belum reda, walau sesungguhnya imajinasiku telah enyah berganti kisah masa lalu.
Tiba-tiba saja kilat berkelebat, kekagetanku berdampak pada jantungku yang berdetak lebih cepat. Dan aku mulai takut terjebak lama di halte bus ini, kalau bus yang kutunggu pun belum juga datang. Kulihat langit tetap kelabu, hujan yang tak kunjung usai ini mengundang dingin yang mulai mencium kulitku.
“Sebentar lagi hujan pasti reda” reflek ku menoleh pada asal suara di sampingku. Lelaki itu tetap memandangku.
“ Kamu Rima bukan ???” tanyanya memastikan, aku jadi kikuk , ternyata dia masih mengingatku
“ Kau terlihat khawatir“  ucapnya, kemudian memalingkan pandangan pada hujan yang mulai memelan  seraya tersenyum.
“ Kau masih mengingatku Rama??” tanyaku ragu-ragu. saat itu aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
  “Hem, ku pikir kau yang lupa padaku setelah lama pergi dari rantau bapakmu.” Tukasnya sembari melempar senyum.
 (kau puisi dan aku penulis mana mungkin aku lupa padamu ).
 “ Kau menulis apa dari tadi? “
“Imajinasi”
“Karyamu bagus”
“Tahu dari mana??”
Dia hanya diam sembari memandang hujan, sedangkan aku masih menatapnya. Menunggu jawaban.
“Ya,  baca”  jawabnya yang kemudian menoleh ke arahku. Pandangan kami terserobok lebih dekat dari yang sebelumnya, sepuluh tahun yang lalu.
Aku segera mengalihkan pandangan. Mendengar pujiannya aku hanya tersenyum simpul, dalam hati pun merasa senang. Mungkin Rama telah membaca tulisanku yang telah terbit tahun lalu “ Renjana ” peristiwa kecil antara aku dan Rama yang ku gubah jadi fiksi, atau mungkin ia membaca karangan-karanganku yang sebelumnya.
  “ Apa kabar pulaumu?? ”tanyanya. Membuyarkan pikiranku yang mulai liar.
 “ Sudah jadi Provinsi ” jawabku singkat.
 “ Hem “ gumamnya sembari manggut-manggut.
                Ku lihat hujan mulai reda menyisakan rentetan cerita dalam ilusi.
 “ Rima “
 “ Ya? “
 “ Terima kasih sudah mengingatku “ hatiku berdesir
 “ Tentu saja  aku tak akan lupa, kau…………….” Kemudian Rama menyela kalimatku
 “ Puisi, dan dirimu adalah penulis, kau takkan pernah melupakan aku “  aku tak tau mengapa Rama tahu apa yang hendak ku katakana tanpa ragu. Kutatap lekat matanya yang berbinar. Mencoba menyelami nada-nada hatiku yang sukar  untuk paham.
                Ketika bus yang akan ku tumpangi tiba, aku baru sadar Rama telah menghilang. Hanya sisa tetes air hujan yang tertinggal bersamaku. Argh………..mengapa kau tak kunjung percaya Rima, Rama sudah pulang ketika aku melihatnya di sini.
                                                                                                                               


                                                                                                                                                05012016

1 komentar:

  1. Kalau kata Mohamad Diponegoro, intro yang seperti di atas itu sudah terlalu biasa, jadi bikin pembaca tidak tertarik. Lalu, bagaimana cara? Lukiskan pemandangan alam secara lebih natural, jangan berlebihan

    BalasHapus