Flag Counter

Jumat, 07 Oktober 2016

我爱你 Wo ai ni


            Kicau burung pagi itu telah kembali menjadi irama serambi waktu . separuh wajah bumi kembali terang dan rerumputan yang mengasuh embunpun telah terbangun, memahkotai bumi yang saat itu tengah tersenyum pada cakrawala.
            Kursi panjang di areal taman  sudah menjamu dua tuannya yang nyaris tiap pagi menguasai pemandangan indah, menelanjangi sederetan flora yang merias diri pada cermin penikmat pesona.
            “ Kamu pernah bosan tidak Kar, setiap hari memandangi bunga yang sama dan berada di tempat yang sama?” tanya Mario tanpa memalingkan pandangannya pada gadis cantik yang menjadi lawan bicaranya di pagi sejuk itu.
            “Kenapa juga harus bosan, kalau sesuatu yang  aku pandangi setiap hari itu jelas nyata bisa  menjadikan aku merasa senang” jawab  Karla sembari menatap wajah Mario lekat dari samping. Garis lekuk wajah pemuda itupun terukir jelas di benak Karla.  Suatu kepuasan yang tidak bias ia jabarkan kalaupun haru mendeskripsikannya. Mario menghela nafas kemudian berkata “  kalau aku sih, bosan Kar. Aku pengen tempat yang berbeda. Sebuah tempat di mana aku bias mencairkan semuanya” kali ini Mario menatap Karla. Pandangan keduanyapun menyatu. Rahasia aritmi gadis di hadapan Mario begitu bergejolak dan mata gadis it uterus menyusuri lembah yang tak dimengertinya hingga dari bibir mungilnyalah sepatah kalimat
            “Ni ai wo ma?”
            Mario mengernyitkan dahi, alis tebalnya terangkat sebelah  pertanda bahwa ia tak mengerti apa yang Karla ucapkan. Namun Karla malah tertawa melihat waja Mario yang Nampak kaget dengan kalimat yang baru di ucapkannya.
            “Kamu ngomong apa tadi?” selidik Mario yang kala itu mencurigai tawa Karla setelah mengatakan kalimat itu. Sempat terbesit dalam fikirannya bahwa Karla sedang mengejeknya.
            “ Bukan apa-apa kok. Aku cuma mau bilang sesuatu yang buat aku merasa bahagia hari ini” jawa Karla dengan sisa tawanya yang berubah jadi senyum getir.  Mario masih bingung , ia merasa baru saja di bodohi Karla sahabatnya sendiri.
            “ Kamu jangan bohongin aku Kar.  Barusan kamu pake bahasa kamu, kan. Ni ai……..apa sih itu tadi?”
            Gadis bermata sipit itu hanya tersenyum. Angin di biarkannya menyibak poni yang menggantung menyembunyikan kedua alisnya yang nampak bagai bulan tanggal satu.
            “Aku gak bohongin kamu kok. Aku lagi senang aja sekarang”
            “Kenapa?”
            “Baru saja aku mengukir bintang”
            Mario tersenyum kecut “ Kamu aneh. Pagi-pagi begini mana ada bintang?” ujar Mario kemudian menggigit bibir bawahnya. Sedangkan otaknya sibuk merangkai kata yang akhir-akhir ini ingin ia sampaikan pada Karla.
            “Mario!”
            “Ya?”
            “ Kalau besok kita sama-sama dinyatakan lulus ujian nasional, aku pengen banget nanti malem kita ngadain party  khusus  buat kita berdua. Dan yang menjadi tamunya adalah bintang-bintang di langit. Cukup kita berdua serta  bintang-bintang yang mengawal  bulan yang hadir di party itu” pinta Karla sembari menatap Mario. Mata elan Mario menunjukkan tanya Karla yang kemudian di ucapkannya secara lisan.
            “Kenapa kita tidak mengundang sekelas kita saja.  Lebih seru, kan”
            “Pengen yang beda saja. Kalau kamu gak mau ya,sudah  nggak masalah”
            “ Bukan gak mau tapi aneh saja dengan ide konyolmu itu”
            “Aku janji ini yang teakhir aku minta yang aneh-aneh ke kamu setelah ini aku nggak akan minta apapun lagi ke kamu” terang Karla untuk meyaknkan. Mario masih tampk berfikir.
            “Kamu gak lagi ngajakin aku ngedate, kan?” Mariomenatap Karla meminta kepastian, namun Karla malah tertawa dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
            Nge-date kamu bilang?” Karla masih terkekeh “ Kamu mikirnya terlalu jauh, kita kan sahabatan bukan pacaran”
            Mario masih bingung, pun dengan pertanyaannya sendiri. Karla benar, ia memang terlalu  berfikir jauh. Hubungan keduanya memanglah sebatas sahabat.
            “Terserah kalau nanti malam kamu gak mau datang. Aku harap kamu gak nyesel ngelewatin malam party nanti” tukas Karla sembari tersenyum.                                                                                                                      *****
            Keesokan harinya di Sekolah para ssiswa kelas akhir dinyatakan lulus tanpa ada yang haarus mengulang. Mereka bersorak-sorak ria. Mengumandangkan kebahagiaan, saling corat coret seragam saatu saama lain, berpelukan dengan teman-teman menyatukan bahagia. Ada pula yang menangis haru karena akan berpisah dengan sahabat. Mario ikut larut dalam kebahagiaan itu. Namun tiba-tiba saja dia merasa ada yang kurang manis pada waktu kegembiraan itu melebur bersama kawan-kawannya. Karla tak ada di sana. Mario mengedarkan pandangan kemudah memilah satu persatu wajah  siswi yang sedang berkerumunan matanya terus mencari tanpa melangkahkan kaki. Objek utamanya kali ini adalah sau orang yang sangat berarti di hidupnya, Karla. Gadis berambut hitam  separuh punggung yang biasanya tergerai indah dengan satu jepitan lucu yang menghias di bagian kepala. Mario mulai bingung, ia memegang tengkuknya sembari kemudian berfikir.
tempat lain.

            Mario menepikan motornya di depan gerbang  rumah Karla. Buru-buru Mario mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Karla terlebih dulu. Beberapa detik kemudian  ia mendapat jawaban dari sebrang.
            “Iya Mar, ada apa?”
            “Sekarang kamu dimana, kok aku gak lihat kamu di Sekolah hari ini. Kamu gak lagi sakit kan? Udah tahu kabar tentang kelulusan belum, jadi gak mau buat party?” Mario langsung menjejali Karla dengan pertanyaan yang tanpa ia ketahui membuat Karla sedikit kesal dengan nadaa suaranya yang berlebihan.
            “Bawel!” ujar Karla ketus “ tumben kepo. Kamu pengen tahu aku ada di mana? Aku lagi ada di tempat anti Mario Fernandez. Dan aku gak lagi sakit”
            “ Ya ampun kar, segitunya”
            “ Udah deh.. aku lagi gak bias di ganggu sekarang, sudah ya!”

"Eits.. tunggu!! party-nya gimana?"

          “Gak aka nada party kalau kamu gak datang”
     Klik.
            Karla mematikan ponsel.
            “ Ada yang gak beres nih sama Karla. Tumben dia ketus begitu sama aku?”
                                                                        ******
            Malam itu Mario sudah siap dengan penampilannya. Kemeja hitam yang di padu dengan jas berwarna abu-abu. Mario memandang dirinya di cermin. Tak lama daari itu suara ketukan daari membuyarkan perhatiannya kemudian segera membuka pintu.
            “ Ada apa, ma?” tanya Mario begitu tahu yang mengetuk pintu adalah mamanya sendiri. Wanita paruh baya di depannya itu  sekilas memperhatikan penampilannya sembari tersenyum.
            “Mau kencan ,ya” ujar mama Mario “ rapi sekali?”
            “Bias jadi. Eh… gak, bukan.  Maksudnya Mario mau pergi ke pesta temen kok ma”
            “Pesta? Sama Nina?”
            “Gak. Malah mau pergi ke……………”
            “Di bawah ada keluarganya Nina. Kamu temenin Nina, gih. Ajak ngobrol apa gitu”
            “lho ma, Mario kan mau pergi” ucap Mario mulai kesal
            “Mario, Nina itu calon tunangan kamu. Apa salahnya Cuma nemenin Nina ngobrol,lagian keluarga Nina datang ke sini juga untuk membicarakan tentang pertunangan kalian”
            “ Ma, Mario masih baru lulus SMA, Mario masih mau kuliah ma. Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah pertunangan ?” kali ini Mario mulai marah. Dari awal ia memang tak pernah setuju dengan perjodohannya dengan Nina. Sekalipun ia mengakui akan kecantikannya yang melebihi paras Karla, sahabatnya sendiri.
            “Mario!” suara mama Mario mulai meninggi, tatapan matanya mengisyaratkan kekecewaan “ mau tidak mau kamu  harus patuh Mario.  Suka tidak suka kamu tetap harus bertunangan dengan Nina. Ini juga demi kebahagiaan kamu. Untuk yang satu ini tolong jangan kecewain mama sama papa kamu Mario”
            “Ma…”
            “Lupakan pesta itu dan temui keluarga Nina sekarang juga!” tukas mama Mario kemudian berlalu meninggalkan Mario dengan rasa kekecewaannya. Mario pun terpaksa menuruti perintah orang tuanya. Harusnya malam itu ia pergi menemui Karla. Pasti  gadis itu sangat kecewa apabila ia tidak datang. Sebelum menemui keluarga  Nina, ia berusaha  menghubungi Karla. Namun tak ada jawaban dari seberang. Mario semakin kesal. Ia tak mungkin juga pergi diam-diam untuk tak mematuhi permintaan mamanya. Sebab kesehatan kesehatan papanyalah yang akan di korbankan.
                                                                        ******
            Pagi-pagi sekali Mario pergi menemui Karla dengan mengendarai  motornya.  Sudah semenjak tadi malam gadis itu enggan menerima telephone darinya. Mungkin sekarang Karla marah besar lantaran di buat menunggu. Dan Mario tidak ingin hal itu larut.
            Tiba di rumah Karla, Mario langsung mengetuk pintu  berharap Karla sendirilah yang akan membukakan pintu. Sebentar kemudian seorang wanita paruh baya berperawakan gemuk membuka pintu. Yang tak lain adalah pembantu di rumah Karla.
            “Den Mario. Cari non Karla ya, Den?” tanyanya sembari tersenyum ramah.
            “ Iya.Karlanya ada,bi?” jawab Mario yang mulai cemas.
            “Non Karla sudah pergi, Den”
            “ Pergi ke mana bi?”
            “ Ke Beijing buat nerusin kuliahnya di sana, Den. Katanya sih, buat nemenin neneknya juga yang sudah tua di sana ,Den” Mario kembali di selimuti rasa menyesal. Setelah mengetahui bahwa Karla pergi membawa marah padanya.
            “Oh iya,Den. Saya hamper saja lupa. Tunggu sebentar  ya, Den!” ujar pembantu itu  sembari bergegas untuk mengambil titipan Karla untuk Mario. Tak lama kemudian pembantu itu kembaki dengan membawa kotak berwarna merah hati di tangannya.
            “Ini buat Den Mario, dari non Karla”
            Mario mengambil alih benda itu.
            “ Makasih bi” ucap Mario kemudian membukanya. Kotak itu berisi kertas yang terlipat rapi dan di bawahnya terdapat sebuah kain berwarna kuning yang tak lain adalah sapu tanangan yang sudah sudah di sulam dengan benang merah dan membentuk tulisan berhuruf china yang sama sekali tak di pahaminya. Mariopun segera membaca surat dari Karla dengan hati yang bergetar.

            Mario….
 Aku tak tahu caranya untuk menjelaskan perasaanku ketika bersamamu. Aku bingung untuk menguraikan  kebahagiaanku ketika berada di dekatmu. Dan aku pun yakin kau tak pernah tahu, betapa aku dibuat resah oleh tatapanmu yang membuahkan tanya dalam hati ini. Ingin rasanya untuk aku telusuri mencari  jawaban itu. Namun aku takut untuk tersesat dan terlelap dalam sesuatu yang tak mungkin antara kau dan aku.
Kau adalah sahabat terbaikku. Mungkin akan terasa berat meninggalkan semua tentang aku dan kau yang telah lalu. Dan mejadikan semuanya sebagai kenangan yang telah tertulis dalam rencana takdir. Aku akan sangat merindukanmu.
Aku minta maaf tidak memberi tahumu tentang kepergianku ke Beijing. Ku rasa itu lebih baik.
                                                          Sampai jumpa di masa depan.
                                                                   Karla   Qi

                                                ******
Tujuh tahun kemudian…………
Semenjak saat itu Mario lebih banyak diam, juga tak membantah permintaan orang tuanya. Meskipun sudah bisa menerima Nina sebagai istrinya Mario tak pernah bisa untuk melupakan untuk melupakan Karla dan segala kenangannya. Terutama tentang makna tulisan China kenangan dari Karla. Hingga sekarang Mario masih tidak tahu apa artinya. Terkadang kalimat yang pernah di ucapkan Karla masih terngiyang di telinganya. Semua barang kenangannya bersama Karla ia buang sebelum hari pernikahannya kecuali tanda tanya bagi dirinya.
“Sayang, waktu bonkar isi lemari aku nemuin sesuatu. Aku suka sama benda itu” ucap Nina sembari merapikan dasi yang di kenakan Mario.
“ Benda apa?” tanya Mario,penasaran sembari menatap istrinya.
“Sapu tangan kuning ada huruf China-nya gitu. Boleh buat aku kan sayang?” tanya Nina manja sembari memasang kancing jas Mario. Mario sempat kaget akan hal itu.
“Artinya apa?”
“Aku juga tidak tahu” jawab Mario yang mulai gusar. Kening Nina mengerut heran.
“Tapi boleh buat aku kan?” Nina mengulang pertanyaannya. Mario berfikir sejenak lalu kemudain berkata.
“Boleh, tapi kalau aku sudah tahu arti dari tulisan itu”
“Baiklah. Itu urusan mudah aku akan bantu kamu untuk tahu arti dari tulisan itu apa” kata Nina girang. Mario merasa aneh padahal sapu tangan itu benda yang sangat sederhana. Mengapa bagi Nina benda itu seperti sangat istimewa. Mungkinkah ini karna Nina tengah hamil muda.
            “ Bagaimana caranya?”tanya Mario antusias
            “Aku punya teman keturunan China. Aku akan minta bantuannya untuk menerjemahkan sulaman huruf China yang ada di sapu tangan itu padanya” jelas Nina dengan raut wajah senangnya.
                                                                    *****
            Di Restoran.
            “Segitu pentingnya sapu tangan itu buat kamu?” tanya Mario yang sedari tadi memperhatikan Nina yang nampak tak sabar menunggu temannya datang. Ia mengetuk- ngetukan jarinya di atas meja dan sesekali memperhatikan pengunjung yang datang.
            “Aku suka banget sama sulamannya, mungkin karna ngidam” jawabnya antusias. Mario hanya tersenyum  mendengarnya. Andai saja sapu tangan itu tak menyimpan misteri bagi dirinya, mungkin akan dengan mudah sapu tangan itu ia pindah tangankan.
            “Nah, itu dia” ujar Nina girang sembari melambaikan tangan pada seorang wanita jangkung, berkulit putih yang dengan anggunnya berjalan kea rah mereka.
            “Hai, maaf ya, sudah menunggu lama” ucapnya sembari melempar senyum.
            “Tidak apa-apa,. Ayo, silakan duduk” tukas Nina dengan perasaan senang, sedangkan Mario tertegun menatap wanita yang sedari tadi ditunggu oleh istrinya itu.
            “Karla kenalin ini suami aku, Mario” imbuh Nina. Sejenak Karla menatap Mario sembari tersenyum. Hatinya berdesir begitupun dengan Mario. Degup jantungnya begitu terasa.
             “ Karla” ucap Karla sembarri mengulurkan tangan seakan-akan belim pernah mengenal Mario sebelumnya. Mario menelan ludah, ia tak salah orang. Gadis itu memang benar sahabatnya, tapi mengapa dia berpura-pura tidak kenal atau mungkin dia memang sudah lupa?”
            “Mario” Mariopun segera mejabat tanganya .
            Mario lebih banyak diam hanya sesekali ia menanggapi dan memperhatikan perbincangan istrinya dengan Karla yang terlihat seperti sudah lama berteman akrab. Hati Karla benar-bena  terasa hancur kala tahu Mario telah menikah dan akan memiliki anak dari wanita yang kini menjadi temannya itu. Tanpa ia sadari bahwa sesungguhnya Mario sangat merindukannya. Andai saja malam itu Mario datang mungkin keadaannya akan berbeda. Namun sayang, kalimat di hatinya tak pernah tersampaikan dan Karla pun tak memiliki kesempatan untuk tahu begitu menyesalnya Mario tak menjadikan dirinya lebih dari seorang sahabat.
            “Oh ya, Karla. Mario punya sapu tangan bertuliskan huruf China.karena kami tidak tahu artinya apa, kami ingin minta bantuan kamu buat ngejelasin maksudnya apa?” ungkap Nina sembari menunjukkan sapu tangan kuning itu pada Karla. Betap kagetnya ia melihat sapu tangan itu. Karla masih ingat betul bahwa sapu tangan itu adalah kenang-kenangan  yang diberikannya pada Mario dan telah di sulamnya dengan setulus hati. Ia melihat kearah Mario sebentar. Mungkin ini adalah waktu yang tepat memberi tahu Mario yang sebenarnya. Walau saat ini Mario telah ada yang memiliki.
            “Kira-kira bacanya gimana dan artinya apa? Mario sudah janji padaku akan memberikan sapu tangan ini padaku karena sapu tangan ini milik Mario”  terang Nina sembari mengusap-usap sulaman pada sapu tangan itu dengan jari telunjuknya.
            “Memangnya Mario mendapatkannya dari mana?”selidik Karla berpura-pura tidak tahu. Matanya sekilas melihat kearah Mario lagi dan kemudian kepada Nina. Ada sedikit rasa kecewa melintas di hatinya lantaran Mario akan memeberikan sapu tangan itu pada orang lain.
            “ Aku memungutnya dari jalan” jawabnya dengan suara yang bergetar. Tak tahu mengapa suasana ini harus mebuatnya berdusta. Karla manggut-manggut ia meragu untuk menjelaskan rupanya Mario tidak pernah menganggap benda pemberiannya begitu istimewa.
            “ Aku memungutnya dari jalan takdirku. Pemberian dari cinta pertamaku yang tak pernah temui jalan untuk menyatu” gumam Mario dalam hati.
            Huruf China yang yang tersulam di sapu tangan itu adalah perasaannya pada Mario yang tak mudah untuk ia utarakan. Hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit yang harus ditanggapinya dengan berpura-pura  biasa-biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
            “ Kamu bisa menjelaskan arti dari tulisan ini, bukan?” tanya Nina menegaskan “ saya harap kamu bisa berkata jujur” imbuh Mario penuh harap dari surat yang di bacanya tujuh tahun yang lalu. Selama ini ia hanya mencoba menduga arti dari sulaman itu. Dan hari ini ia akan segera mengetahuinya langsung dari penyulamnya sendiri. Sulaman Karla memang bagus, gadis itu sudah bisa menyulam semenjak usia tujuh tahun. Mario begitu yakin kalau Karla menyulamnya dengan sesuatu yang tak biasa dalam hatinya. Sesuatu yang rahasia untuk sahabat.
            Karla menghela nafas panjang, ia mencoba menegarkan hati dan menahan agar air mata tak turut hadir.
            “Yang ini bacanya WO, artinya aku.” Karla mulai menjelaskan satu persatu-satu sembari menunjukkan huruf China yang tertera. Nina mengangguk paham sedangkan mata Mario tanpa berkedip memperhatikannya.
            “Yang ini bacanya AI, artinya cinta. Sedangkan yang ini bacanya NI, artinya kamu” tatapan Karla beralih pada Mario yang sedari tadi menatapnya.
            “Jadi kalau digabung artinya AKU CINTA KAMU”

                                                                                    Sumenep, 17 Maret 2015
           
           



           

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar