Sore itu bukan untuk pertama kalinya dua gadis pesisir sedang
bercakap di tepi pantai. Menunggu senja, menikmati angin jeladri yang
menyibak mesra rambut panjang keduanya
yang sedang duduk beralas pasir. Debur ombak yang terhempas pada karang
terdengar begitu syahdu mengiringi cengkrama dua gadis pulau yang tengah pulang
kampung setelah lama di kota rantau.
“Rif, gelombang pantai ini masih sama, bukan?” ucap si gadis
bermata cokelat sembari memandang lepas ke arah lautan “Aku sering
berandai-andai, bahwasanya bukan hanya kau dan aku yang akan menikmati pantai
ini, tapi juga lelaki dari pulau sebrang”
“Ah, cerita ini masih saja kau lanjutkan, padahal aku sudah susah
payah menyimpannya untukku sendiri, Zun” tukas Rif dengan nada suara yang
gundah. “ Aku sedang tidak ingin berandai-andai. Karena aku masih punya
keyakinan dia hanya sedang mengembara sebelum akhirnya kembali pulang padaku”
“Ya, aku tahu kisah ini berbeda, Rif. Tapi setidaknya aku bisa
mengabadikan perasaan ini untuk kebahagiaanku sendiri yang seumpama pungguk” tukas Zun sembari mengulum
senyum pada riak pantai. “Kau pun tahu bagaimana aku yang teramat gila pada
cerita ini, tertawa dalam luka sembari berdansa dengan rupa yang tak berwujud,
bernyanyi dengan irama hujan yang membendung sungai di wajahku” terang Zun, kemudian
menatap Rif yang mendengkan celotehnya. Sinar mega tak jemu memukau samudra yang pantulkan bias
jingganya. Seiring dengan menuanya merebahnya cerita, dua gadis itu masih saja
bercakap perihal yang sama.
“Apalah kita ini? kita sama-sama jatuh cinta pada lelaki lain
pulau, tapi entah dengan siapa kelak kita berpegang tangan habiskan masa?”
wajah itu kembali hadir di benak Rif. Lelaki yang pernah jadi kekasihnya,
sekaligus orang yang memenjarakan diri dalam lubuk hati rapuhnya.
“Kadang aku berpikir, bodohkah aku yang
berharap lebih? Sedangkan rasaku tak kunjung sirna. Oleh sebab itu aku
berteriak dalam sajak yang kuhanyutkan kemaren petang, biar ia samapi di kaki
langit lalu tertulis di awan. Biar rinduku melebur bersama hujan, lalu hujan
mendekapnya untukku di seberang pulau sana” untuk kesekian kalinya imajinasi
Zun mengembara begitu jauhnya. Bahkan ia tak mengerti apa yang baru saja ia
katakana. Rif mengernyit sembari membatin “ah...rupanya gadis ini telah terkena racun, padahal aku
sudah pernah bilang agar ia tak jadi pengarang biar akalnya tetap waras”
“Sudahlah, Zun... toh hidup ini bukan kita
yang punya. Katanya perempuan itu takdirnya hanya menunggu saja. Ya...tapi bila
kau mampu, tiru saja tindakan Khadijah bin Khuailid yang lebih dulu melamar
rasul” tukas Rif yang kemudian terkekeh
dengan omongannya sendiri, sembari berandai hal itu pun Zun lakukan.
“Sudah” jawab Zun dengan wajah sendu, sama
seperti Rif sebelum ia menertawakan dirinya. “Aku sudah berulang kali menulis surat
padanya, setiap hari jadinya aku menulis surat untuknya. Aku mengiriminya kado
berupa sajak dan untaian do’a yang aku kirim ke langit”
Rif mengernyit mafhum. Apa gerangan yang melanda Zun? Cinta macam
apa yang ia punya untuk seseorang yang masih dalam halimun itu?
“Hari ini berulang tahun, Rif… usianya makin berkurang. Bahkan aku
tak tahu kapan akan dipertemukan kembali dengannya tanpa sengaja? Di usia ke
berapakah itu? Ia bahkan tak sempat membalas suratku. Apa mungkin do’aku di
hari ulang tahunnya tertahan di langit?”
Rif… mengusap-usap pundak Zun, mata gadis itu dilihatnya
berkaca-kaca dengan wajah harap yang teramat sangat. Khayalan Rif mengembara
pada kisahnya sendiri, bagaimana ia bilang bahwaa dirinya rapuh bila karibnya
sendiri lebih menyayat? Lebih-lebih ia pernah menyayangkan singgahnya si
pencuri hati yang dirasanya telah menyayat hati, padahal ia sendiri yang
membuat kesalahan. Argh…. Cemburu itu bak petaka dalam cinta kalau-kalau dibawa
gelap mata. Selalu saja membakar hatinya, berbeda dengan Zun, yang cintanya
telah menjadi karang hingga buatnya begitu gila. Kenapa pula beberapa waktu
lalu ia bilang pada Zun kalau seuatu yang kuat pasti ada yang bisa menghancurkan, sedang
hati Zun yang tercabik saja masih tegar hingga hari ini semenjak 10 tahun
perjalan mencari jawab atas pesan yang melesat ke langit. Ah… nyatanya takdir
Tuhan memang harus sesap agar kita mampu untuk mengerti. Tapi kenapa cinta itu
tulus bila jika yang dicinta tak tulus? Rif memang harus berbohong bahwa ia
baik-baik saja sementara, ia harus bersusah payah lupa akan kekasihnya yang
telas berdua.
Wajah lelaki itu tanpa sadar menguasai pikiran Rif.
“Mengaku baik-baik saja dengan keputusanku, itu adalah
kebohongan. Namun setidaknya setidaknya aku memberikan kemerdekaan yang
sempurna pada hatimu, aku tidak akan lagi mengaku cinta tapi kau harus mengerti
bahwa aku masih cinta”[1]