Kicau burung pagi itu
telah kembali menjadi irama serambi waktu . separuh wajah bumi kembali terang
dan rerumputan yang mengasuh embunpun telah terbangun, memahkotai bumi yang
saat itu tengah tersenyum pada cakrawala.
Kursi panjang di areal
taman sudah menjamu dua tuannya yang
nyaris tiap pagi menguasai pemandangan indah, menelanjangi sederetan flora yang
merias diri pada cermin penikmat pesona.
“ Kamu pernah bosan tidak
Kar, setiap hari memandangi bunga yang sama dan berada di tempat yang sama?”
tanya Mario tanpa memalingkan pandangannya pada gadis cantik yang menjadi lawan
bicaranya di pagi sejuk itu.
“Kenapa juga harus
bosan, kalau sesuatu yang aku pandangi
setiap hari itu jelas nyata bisa
menjadikan aku merasa senang” jawab
Karla sembari menatap wajah Mario lekat dari samping. Garis lekuk wajah
pemuda itupun terukir jelas di benak Karla.
Suatu kepuasan yang tidak bias ia jabarkan kalaupun haru
mendeskripsikannya. Mario menghela nafas kemudian berkata “ kalau aku sih, bosan Kar. Aku pengen tempat
yang berbeda. Sebuah tempat di mana aku bias mencairkan semuanya” kali ini
Mario menatap Karla. Pandangan keduanyapun menyatu. Rahasia aritmi gadis di
hadapan Mario begitu bergejolak dan mata gadis it uterus menyusuri lembah yang
tak dimengertinya hingga dari bibir mungilnyalah sepatah kalimat
“Ni ai wo ma?”
Mario mengernyitkan
dahi, alis tebalnya terangkat sebelah
pertanda bahwa ia tak mengerti apa yang Karla ucapkan. Namun Karla malah
tertawa melihat waja Mario yang Nampak kaget dengan kalimat yang baru di
ucapkannya.
“Kamu ngomong apa
tadi?” selidik Mario yang kala itu mencurigai tawa Karla setelah mengatakan
kalimat itu. Sempat terbesit dalam fikirannya bahwa Karla sedang mengejeknya.
“ Bukan apa-apa kok. Aku cuma mau
bilang sesuatu yang buat aku merasa bahagia hari ini” jawa Karla dengan sisa
tawanya yang berubah jadi senyum getir.
Mario masih bingung , ia merasa baru saja di bodohi Karla sahabatnya
sendiri.
“ Kamu jangan bohongin aku Kar. Barusan kamu pake bahasa kamu, kan. Ni
ai……..apa sih itu tadi?”
Gadis bermata sipit itu
hanya tersenyum. Angin di biarkannya menyibak poni yang menggantung
menyembunyikan kedua alisnya yang nampak bagai bulan tanggal satu.
“Aku gak bohongin kamu
kok. Aku lagi senang aja sekarang”
“Kenapa?”
“Baru saja aku mengukir
bintang”
Mario tersenyum kecut “
Kamu aneh. Pagi-pagi begini mana ada bintang?” ujar Mario kemudian menggigit
bibir bawahnya. Sedangkan otaknya sibuk merangkai kata yang akhir-akhir ini
ingin ia sampaikan pada Karla.
“Mario!”
“Ya?”
“ Kalau besok kita sama-sama
dinyatakan lulus ujian nasional, aku pengen banget nanti malem kita ngadain
party khusus buat kita berdua. Dan yang menjadi tamunya
adalah bintang-bintang di langit. Cukup kita berdua serta bintang-bintang yang mengawal bulan yang hadir di party itu” pinta Karla
sembari menatap Mario. Mata elan Mario menunjukkan tanya Karla yang kemudian di
ucapkannya secara lisan.
“Kenapa kita tidak mengundang
sekelas kita saja. Lebih seru, kan”
“Pengen yang beda saja. Kalau kamu
gak mau ya,sudah nggak masalah”
“ Bukan gak mau tapi aneh saja
dengan ide konyolmu itu”
“Aku janji ini yang teakhir aku
minta yang aneh-aneh ke kamu setelah ini aku nggak akan minta apapun lagi ke
kamu” terang Karla untuk meyaknkan. Mario masih tampk berfikir.
“Kamu gak lagi ngajakin aku ngedate,
kan?” Mariomenatap Karla meminta kepastian, namun Karla malah tertawa dengan
pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
“Nge-date kamu bilang?” Karla masih
terkekeh “ Kamu mikirnya terlalu jauh, kita kan sahabatan bukan pacaran”
Mario masih bingung, pun dengan
pertanyaannya sendiri. Karla benar, ia memang terlalu berfikir jauh. Hubungan keduanya memanglah
sebatas sahabat.
“Terserah kalau nanti malam kamu gak
mau datang. Aku harap kamu gak nyesel ngelewatin malam party nanti” tukas
Karla sembari tersenyum. *****
Keesokan harinya di
Sekolah para ssiswa kelas akhir dinyatakan lulus tanpa ada yang haarus
mengulang. Mereka bersorak-sorak ria. Mengumandangkan kebahagiaan, saling corat
coret seragam saatu saama lain, berpelukan dengan teman-teman menyatukan
bahagia. Ada pula yang menangis haru karena akan berpisah dengan sahabat. Mario
ikut larut dalam kebahagiaan itu. Namun tiba-tiba saja dia merasa ada yang
kurang manis pada waktu kegembiraan itu melebur bersama kawan-kawannya. Karla
tak ada di sana. Mario mengedarkan pandangan kemudah memilah satu persatu
wajah siswi yang sedang berkerumunan
matanya terus mencari tanpa melangkahkan kaki. Objek utamanya kali ini adalah
sau orang yang sangat berarti di hidupnya, Karla. Gadis berambut hitam separuh punggung yang biasanya tergerai indah
dengan satu jepitan lucu yang menghias di bagian kepala. Mario mulai bingung,
ia memegang tengkuknya sembari kemudian berfikir.
tempat lain.
Mario menepikan motornya di depan
gerbang rumah Karla. Buru-buru Mario
mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Karla terlebih dulu.
Beberapa detik kemudian ia mendapat
jawaban dari sebrang.
“Iya Mar, ada apa?”
“Sekarang kamu dimana, kok aku gak
lihat kamu di Sekolah hari ini. Kamu gak lagi sakit kan? Udah tahu kabar
tentang kelulusan belum, jadi gak mau buat party?” Mario langsung menjejali
Karla dengan pertanyaan yang tanpa ia ketahui membuat Karla sedikit kesal
dengan nadaa suaranya yang berlebihan.
“Bawel!” ujar Karla ketus “ tumben
kepo. Kamu pengen tahu aku ada di mana? Aku lagi ada di tempat anti Mario
Fernandez. Dan aku gak lagi sakit”
“ Ya ampun kar, segitunya”
“ Udah deh.. aku lagi gak bias di
ganggu sekarang, sudah ya!”
"Eits.. tunggu!! party-nya gimana?"
“Gak aka nada party kalau kamu gak
datang”
Klik.
Karla mematikan ponsel.
“ Ada yang gak beres nih sama Karla.
Tumben dia ketus begitu sama aku?”
******
Malam itu Mario sudah siap dengan
penampilannya. Kemeja hitam yang di padu dengan jas berwarna abu-abu. Mario
memandang dirinya di cermin. Tak lama daari itu suara ketukan daari membuyarkan
perhatiannya kemudian segera membuka pintu.
“ Ada apa, ma?” tanya
Mario begitu tahu yang mengetuk pintu adalah mamanya sendiri. Wanita paruh baya
di depannya itu sekilas memperhatikan
penampilannya sembari tersenyum.
“Mau kencan ,ya” ujar
mama Mario “ rapi sekali?”
“Bias jadi. Eh… gak,
bukan. Maksudnya Mario mau pergi ke
pesta temen kok ma”
“Pesta? Sama Nina?”
“Gak. Malah mau pergi
ke……………”
“Di bawah ada keluarganya
Nina. Kamu temenin Nina, gih. Ajak ngobrol apa gitu”
“lho ma, Mario kan mau
pergi” ucap Mario mulai kesal
“Mario, Nina itu calon tunangan
kamu. Apa salahnya Cuma nemenin Nina ngobrol,lagian keluarga Nina datang ke
sini juga untuk membicarakan tentang pertunangan kalian”
“ Ma, Mario masih baru lulus SMA,
Mario masih mau kuliah ma. Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah pertunangan ?”
kali ini Mario mulai marah. Dari awal ia memang tak pernah setuju dengan
perjodohannya dengan Nina. Sekalipun ia mengakui akan kecantikannya yang
melebihi paras Karla, sahabatnya sendiri.
“Mario!” suara mama Mario mulai
meninggi, tatapan matanya mengisyaratkan kekecewaan “ mau tidak mau kamu harus patuh Mario. Suka tidak suka kamu tetap harus bertunangan
dengan Nina. Ini juga demi kebahagiaan kamu. Untuk yang satu ini tolong jangan
kecewain mama sama papa kamu Mario”
“Ma…”
“Lupakan pesta itu dan
temui keluarga Nina sekarang juga!” tukas mama Mario kemudian berlalu
meninggalkan Mario dengan rasa kekecewaannya. Mario pun terpaksa menuruti
perintah orang tuanya. Harusnya malam itu ia pergi menemui Karla. Pasti gadis itu sangat kecewa apabila ia tidak
datang. Sebelum menemui keluarga Nina, ia
berusaha menghubungi Karla. Namun tak
ada jawaban dari seberang. Mario semakin kesal. Ia tak mungkin juga pergi
diam-diam untuk tak mematuhi permintaan mamanya. Sebab kesehatan kesehatan
papanyalah yang akan di korbankan.
******
Pagi-pagi sekali Mario
pergi menemui Karla dengan mengendarai
motornya. Sudah semenjak tadi malam
gadis itu enggan menerima telephone darinya. Mungkin sekarang Karla marah besar
lantaran di buat menunggu. Dan Mario tidak ingin hal itu larut.
Tiba di rumah Karla,
Mario langsung mengetuk pintu berharap
Karla sendirilah yang akan membukakan pintu. Sebentar kemudian seorang wanita
paruh baya berperawakan gemuk membuka pintu. Yang tak lain adalah pembantu di
rumah Karla.
“Den Mario. Cari non
Karla ya, Den?” tanyanya sembari tersenyum ramah.
“ Iya.Karlanya ada,bi?”
jawab Mario yang mulai cemas.
“Non Karla sudah pergi,
Den”
“ Pergi ke mana bi?”
“ Ke Beijing buat
nerusin kuliahnya di sana, Den. Katanya sih, buat nemenin neneknya juga yang
sudah tua di sana ,Den” Mario kembali di selimuti rasa menyesal. Setelah
mengetahui bahwa Karla pergi membawa marah padanya.
“Oh iya,Den. Saya hamper saja lupa.
Tunggu sebentar ya, Den!” ujar pembantu
itu sembari bergegas untuk mengambil titipan
Karla untuk Mario. Tak lama kemudian pembantu itu kembaki dengan membawa kotak
berwarna merah hati di tangannya.
“Ini buat Den Mario, dari non Karla”
Mario mengambil alih benda itu.
“ Makasih bi” ucap Mario kemudian
membukanya. Kotak itu berisi kertas yang terlipat rapi dan di bawahnya terdapat
sebuah kain berwarna kuning yang tak lain adalah sapu tanangan yang sudah sudah
di sulam dengan benang merah dan membentuk tulisan berhuruf china yang sama
sekali tak di pahaminya. Mariopun segera membaca surat dari Karla dengan hati
yang bergetar.
Mario….
Aku tak tahu caranya untuk menjelaskan
perasaanku ketika bersamamu. Aku bingung untuk menguraikan kebahagiaanku ketika berada di dekatmu. Dan
aku pun yakin kau tak pernah tahu, betapa aku dibuat resah oleh tatapanmu yang
membuahkan tanya dalam hati ini. Ingin rasanya untuk aku telusuri mencari jawaban itu. Namun aku takut untuk tersesat
dan terlelap dalam sesuatu yang tak mungkin antara kau dan aku.
Kau adalah sahabat terbaikku.
Mungkin akan terasa berat meninggalkan semua tentang aku dan kau yang telah
lalu. Dan mejadikan semuanya sebagai kenangan yang telah tertulis dalam rencana
takdir. Aku akan sangat merindukanmu.
Aku minta maaf tidak memberi
tahumu tentang kepergianku ke Beijing. Ku rasa itu lebih baik.
Sampai
jumpa di masa depan.
Karla Qi
******
Tujuh tahun
kemudian…………
Semenjak saat itu Mario lebih banyak diam, juga tak
membantah permintaan orang tuanya. Meskipun sudah bisa menerima Nina sebagai
istrinya Mario tak pernah bisa untuk melupakan untuk melupakan Karla dan segala
kenangannya. Terutama tentang makna tulisan China kenangan dari Karla. Hingga
sekarang Mario masih tidak tahu apa artinya. Terkadang kalimat yang pernah di
ucapkan Karla masih terngiyang di telinganya. Semua barang kenangannya bersama
Karla ia buang sebelum hari pernikahannya kecuali tanda tanya bagi dirinya.
“Sayang,
waktu bonkar isi lemari aku nemuin sesuatu. Aku suka sama benda itu” ucap Nina
sembari merapikan dasi yang di kenakan Mario.
“ Benda apa?”
tanya Mario,penasaran sembari menatap istrinya.
“Sapu tangan
kuning ada huruf China-nya gitu. Boleh buat aku kan sayang?” tanya Nina manja
sembari memasang kancing jas Mario. Mario sempat kaget akan hal itu.
“Artinya apa?”
“Aku juga
tidak tahu” jawab Mario yang mulai gusar. Kening Nina mengerut heran.
“Tapi boleh
buat aku kan?” Nina mengulang pertanyaannya. Mario berfikir sejenak lalu
kemudain berkata.
“Boleh, tapi
kalau aku sudah tahu arti dari tulisan itu”
“Baiklah.
Itu urusan mudah aku akan bantu kamu untuk tahu arti dari tulisan itu apa” kata
Nina girang. Mario merasa aneh padahal sapu tangan itu benda yang sangat
sederhana. Mengapa bagi Nina benda itu seperti sangat istimewa. Mungkinkah ini
karna Nina tengah hamil muda.
“
Bagaimana caranya?”tanya Mario antusias
“Aku
punya teman keturunan China. Aku akan minta bantuannya untuk menerjemahkan
sulaman huruf China yang ada di sapu tangan itu padanya” jelas Nina dengan raut
wajah senangnya.
*****
Di
Restoran.
“Segitu
pentingnya sapu tangan itu buat kamu?” tanya Mario yang sedari tadi
memperhatikan Nina yang nampak tak sabar menunggu temannya datang. Ia mengetuk-
ngetukan jarinya di atas meja dan sesekali memperhatikan pengunjung yang datang.
“Aku
suka banget sama sulamannya, mungkin karna ngidam” jawabnya antusias. Mario
hanya tersenyum mendengarnya. Andai saja
sapu tangan itu tak menyimpan misteri bagi dirinya, mungkin akan dengan mudah
sapu tangan itu ia pindah tangankan.
“Nah,
itu dia” ujar Nina girang sembari melambaikan tangan pada seorang wanita
jangkung, berkulit putih yang dengan anggunnya berjalan kea rah mereka.
“Hai,
maaf ya, sudah menunggu lama” ucapnya sembari melempar senyum.
“Tidak
apa-apa,. Ayo, silakan duduk” tukas Nina dengan perasaan senang, sedangkan
Mario tertegun menatap wanita yang sedari tadi ditunggu oleh istrinya itu.
“Karla kenalin ini suami aku, Mario”
imbuh Nina. Sejenak Karla menatap Mario sembari tersenyum. Hatinya berdesir
begitupun dengan Mario. Degup jantungnya begitu terasa.
“ Karla” ucap Karla sembarri mengulurkan
tangan seakan-akan belim pernah mengenal Mario sebelumnya. Mario menelan ludah,
ia tak salah orang. Gadis itu memang benar sahabatnya, tapi mengapa dia
berpura-pura tidak kenal atau mungkin dia memang sudah lupa?”
“Mario” Mariopun segera mejabat
tanganya .
Mario
lebih banyak diam hanya sesekali ia menanggapi dan memperhatikan perbincangan
istrinya dengan Karla yang terlihat seperti sudah lama berteman akrab. Hati
Karla benar-bena terasa hancur kala tahu
Mario telah menikah dan akan memiliki anak dari wanita yang kini menjadi
temannya itu. Tanpa ia sadari bahwa sesungguhnya Mario sangat merindukannya.
Andai saja malam itu Mario datang mungkin keadaannya akan berbeda. Namun
sayang, kalimat di hatinya tak pernah tersampaikan dan Karla pun tak memiliki
kesempatan untuk tahu begitu menyesalnya Mario tak menjadikan dirinya lebih
dari seorang sahabat.
“Oh
ya, Karla. Mario punya sapu tangan bertuliskan huruf China.karena kami tidak
tahu artinya apa, kami ingin minta bantuan kamu buat ngejelasin maksudnya apa?”
ungkap Nina sembari menunjukkan sapu tangan kuning itu pada Karla. Betap
kagetnya ia melihat sapu tangan itu. Karla masih ingat betul bahwa sapu tangan
itu adalah kenang-kenangan yang
diberikannya pada Mario dan telah di sulamnya dengan setulus hati. Ia melihat kearah
Mario sebentar. Mungkin ini adalah waktu yang tepat memberi tahu Mario yang
sebenarnya. Walau saat ini Mario telah ada yang memiliki.
“Kira-kira bacanya gimana dan
artinya apa? Mario sudah janji padaku akan memberikan sapu tangan ini padaku
karena sapu tangan ini milik Mario”
terang Nina sembari mengusap-usap sulaman pada sapu tangan itu dengan
jari telunjuknya.
“Memangnya Mario mendapatkannya dari
mana?”selidik Karla berpura-pura tidak tahu. Matanya sekilas melihat kearah
Mario lagi dan kemudian kepada Nina. Ada sedikit rasa kecewa melintas di
hatinya lantaran Mario akan memeberikan sapu tangan itu pada orang lain.
“ Aku memungutnya dari jalan”
jawabnya dengan suara yang bergetar. Tak tahu mengapa suasana ini harus
mebuatnya berdusta. Karla manggut-manggut ia meragu untuk menjelaskan rupanya
Mario tidak pernah menganggap benda pemberiannya begitu istimewa.
“ Aku memungutnya dari jalan
takdirku. Pemberian dari cinta pertamaku yang tak pernah temui jalan untuk
menyatu” gumam Mario dalam hati.
Huruf
China yang yang tersulam di sapu tangan itu adalah perasaannya pada Mario yang
tak mudah untuk ia utarakan. Hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit
yang harus ditanggapinya dengan berpura-pura
biasa-biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
“ Kamu bisa menjelaskan arti dari
tulisan ini, bukan?” tanya Nina menegaskan “ saya harap kamu bisa berkata
jujur” imbuh Mario penuh harap dari surat yang di bacanya tujuh tahun yang
lalu. Selama ini ia hanya mencoba menduga arti dari sulaman itu. Dan hari ini
ia akan segera mengetahuinya langsung dari penyulamnya sendiri. Sulaman Karla
memang bagus, gadis itu sudah bisa menyulam semenjak usia tujuh tahun. Mario
begitu yakin kalau Karla menyulamnya dengan sesuatu yang tak biasa dalam
hatinya. Sesuatu yang rahasia untuk sahabat.
Karla menghela nafas panjang, ia
mencoba menegarkan hati dan menahan agar air mata tak turut hadir.
“Yang ini bacanya WO, artinya aku.”
Karla mulai menjelaskan satu persatu-satu sembari menunjukkan huruf China yang
tertera. Nina mengangguk paham sedangkan mata Mario tanpa berkedip
memperhatikannya.
“Yang ini bacanya AI, artinya cinta.
Sedangkan yang ini bacanya NI, artinya kamu” tatapan Karla beralih pada Mario
yang sedari tadi menatapnya.
“Jadi kalau digabung artinya AKU
CINTA KAMU”
Sumenep,
17 Maret 2015