Flag Counter

Sabtu, 05 November 2016

Percakapan dalam gelombang


Sore itu bukan untuk pertama kalinya dua gadis pesisir sedang bercakap di tepi pantai. Menunggu senja, menikmati angin jeladri yang menyibak  mesra rambut panjang keduanya yang sedang duduk beralas pasir. Debur ombak yang terhempas pada karang terdengar begitu syahdu mengiringi cengkrama dua gadis pulau yang tengah pulang kampung setelah lama di kota rantau.
“Rif, gelombang pantai ini masih sama, bukan?” ucap si gadis bermata cokelat sembari memandang lepas ke arah lautan “Aku sering berandai-andai, bahwasanya bukan hanya kau dan aku yang akan menikmati pantai ini, tapi juga lelaki dari pulau sebrang”
“Ah, cerita ini masih saja kau lanjutkan, padahal aku sudah susah payah menyimpannya untukku sendiri, Zun” tukas Rif dengan nada suara yang gundah. “ Aku sedang tidak ingin berandai-andai. Karena aku masih punya keyakinan dia hanya sedang mengembara sebelum akhirnya kembali pulang padaku”
“Ya, aku tahu kisah ini berbeda, Rif. Tapi setidaknya aku bisa mengabadikan perasaan ini untuk kebahagiaanku sendiri  yang seumpama pungguk” tukas Zun sembari mengulum senyum pada riak pantai. “Kau pun tahu bagaimana aku yang teramat gila pada cerita ini, tertawa dalam luka sembari berdansa dengan rupa yang tak berwujud, bernyanyi dengan irama hujan yang membendung sungai di wajahku” terang Zun, kemudian menatap Rif yang mendengkan celotehnya. Sinar mega  tak jemu memukau samudra yang pantulkan bias jingganya. Seiring dengan menuanya merebahnya cerita, dua gadis itu masih saja bercakap perihal yang sama.
“Apalah kita ini? kita sama-sama jatuh cinta pada lelaki lain pulau, tapi entah dengan siapa kelak kita berpegang tangan habiskan masa?” wajah itu kembali hadir di benak Rif. Lelaki yang pernah jadi kekasihnya, sekaligus orang yang memenjarakan diri dalam lubuk hati rapuhnya.
“Kadang aku berpikir, bodohkah aku yang berharap lebih? Sedangkan rasaku tak kunjung sirna. Oleh sebab itu aku berteriak dalam sajak yang kuhanyutkan kemaren petang, biar ia samapi di kaki langit lalu tertulis di awan. Biar rinduku melebur bersama hujan, lalu hujan mendekapnya untukku di seberang pulau sana” untuk kesekian kalinya imajinasi Zun mengembara begitu jauhnya. Bahkan ia tak mengerti apa yang baru saja ia katakana. Rif mengernyit sembari membatin ah...rupanya gadis ini telah terkena racun, padahal aku sudah pernah bilang agar ia tak jadi pengarang biar akalnya tetap waras”
“Sudahlah, Zun... toh hidup ini bukan kita yang punya. Katanya perempuan itu takdirnya hanya menunggu saja. Ya...tapi bila kau mampu, tiru saja tindakan Khadijah bin Khuailid yang lebih dulu melamar rasul”  tukas Rif yang kemudian terkekeh dengan omongannya sendiri, sembari berandai hal itu pun Zun lakukan.
“Sudah” jawab Zun dengan wajah sendu, sama seperti Rif sebelum ia menertawakan dirinya. “Aku sudah berulang kali menulis surat padanya, setiap hari jadinya aku menulis surat untuknya. Aku mengiriminya kado berupa sajak dan untaian do’a yang aku kirim ke langit”
Rif mengernyit mafhum. Apa gerangan yang melanda Zun? Cinta macam apa yang ia punya untuk seseorang yang masih dalam halimun itu?
“Hari ini berulang tahun, Rif… usianya makin berkurang. Bahkan aku tak tahu kapan akan dipertemukan kembali dengannya tanpa sengaja? Di usia ke berapakah itu? Ia bahkan tak sempat membalas suratku. Apa mungkin do’aku di hari ulang tahunnya tertahan di langit?”
Rif… mengusap-usap pundak Zun, mata gadis itu dilihatnya berkaca-kaca dengan wajah harap yang teramat sangat. Khayalan Rif mengembara pada kisahnya sendiri, bagaimana ia bilang bahwaa dirinya rapuh bila karibnya sendiri lebih menyayat? Lebih-lebih ia pernah menyayangkan singgahnya si pencuri hati yang dirasanya telah menyayat hati, padahal ia sendiri yang membuat kesalahan. Argh…. Cemburu itu bak petaka dalam cinta kalau-kalau dibawa gelap mata. Selalu saja membakar hatinya, berbeda dengan Zun, yang cintanya telah menjadi karang hingga buatnya begitu gila. Kenapa pula beberapa waktu lalu ia bilang pada Zun kalau seuatu yang  kuat pasti ada yang bisa menghancurkan, sedang hati Zun yang tercabik saja masih tegar hingga hari ini semenjak 10 tahun perjalan mencari jawab atas pesan yang melesat ke langit. Ah… nyatanya takdir Tuhan memang harus sesap agar kita mampu untuk mengerti. Tapi kenapa cinta itu tulus bila jika yang dicinta tak tulus? Rif memang harus berbohong bahwa ia baik-baik saja sementara, ia harus bersusah payah lupa akan kekasihnya yang telas berdua.
Wajah lelaki itu tanpa sadar menguasai pikiran Rif.
Mengaku baik-baik saja dengan keputusanku, itu adalah kebohongan. Namun setidaknya setidaknya aku memberikan kemerdekaan yang sempurna pada hatimu, aku tidak akan lagi mengaku cinta tapi kau harus mengerti bahwa aku masih cinta”[1]








[1] Rif’atul Faizah, facebook kronologi

Selasa, 25 Oktober 2016

Sisa Hujan di Halte Bus

                                  
Awan terlihat gelap saat itu . Rinai hujan berjatuhan menarik aroma tanah hingga meruap  melebur dengan nuansa kota. Sedap sekali di penciumanku. Aku berlari kecil, sesegera mungkin mencari tempat berteduh sebelum tetesan air dari langit itu  membasahi kertas-kertas wadah imajinasiku yang sedang aku peluk di dada. Angin berhembus ringan ketika aku baru saja menemukan tempat berteduh, di halte bus. Tak ada seorangpun di sana kecuali aku.
Hujan makin deras sesekali Guntur bergemuruh. Di bawah hujan sana pengendara motor bermantel  tetap melaju, begitupun dengan transportasi lain. Aku termangu , mungkin baiknya aku kembali menulis. Kupangku  kertas-kertasku yang menempel di clipboard---papan klip kemudian ku  rogoh penaku  yang tersimpan di tas. Aku mulai menulis imajinasiku, rasanya senang sekali menulis dalam suasana hujan. Tapi belum sampai aku menulis satu paragraf  cerita, seorang lelaki datang menepi dari hujan. Ia mengibaskan tangan pada bagian bajunya yang basah. Topi hitam yang dikenakannyapun dilepasnya. Setelah kuperhatikan  lelaki jangkung itu, aku baru menyadari sesuatu dan di detik itu aritmiku terjadi, apalagi saat pemuda berkacamata minus itu menoleh ke arahku dan ia terlihat sedikit kaget. Mungkin ia masih ingat dengan wajah ini, setelah sepuluh tahun lamanya tidak bertemu. Dia mendekat padaku, tentu saja mengalihkan pandangannya ke tempat duduk . aku kembali menulis selagi hujan belum reda, walau sesungguhnya imajinasiku telah enyah berganti kisah masa lalu.
Tiba-tiba saja kilat berkelebat, kekagetanku berdampak pada jantungku yang berdetak lebih cepat. Dan aku mulai takut terjebak lama di halte bus ini, kalau bus yang kutunggu pun belum juga datang. Kulihat langit tetap kelabu, hujan yang tak kunjung usai ini mengundang dingin yang mulai mencium kulitku.
“Sebentar lagi hujan pasti reda” reflek ku menoleh pada asal suara di sampingku. Lelaki itu tetap memandangku.
“ Kamu Rima bukan ???” tanyanya memastikan, aku jadi kikuk , ternyata dia masih mengingatku
“ Kau terlihat khawatir“  ucapnya, kemudian memalingkan pandangan pada hujan yang mulai memelan  seraya tersenyum.
“ Kau masih mengingatku Rama??” tanyaku ragu-ragu. saat itu aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
  “Hem, ku pikir kau yang lupa padaku setelah lama pergi dari rantau bapakmu.” Tukasnya sembari melempar senyum.
 (kau puisi dan aku penulis mana mungkin aku lupa padamu ).
 “ Kau menulis apa dari tadi? “
“Imajinasi”
“Karyamu bagus”
“Tahu dari mana??”
Dia hanya diam sembari memandang hujan, sedangkan aku masih menatapnya. Menunggu jawaban.
“Ya,  baca”  jawabnya yang kemudian menoleh ke arahku. Pandangan kami terserobok lebih dekat dari yang sebelumnya, sepuluh tahun yang lalu.
Aku segera mengalihkan pandangan. Mendengar pujiannya aku hanya tersenyum simpul, dalam hati pun merasa senang. Mungkin Rama telah membaca tulisanku yang telah terbit tahun lalu “ Renjana ” peristiwa kecil antara aku dan Rama yang ku gubah jadi fiksi, atau mungkin ia membaca karangan-karanganku yang sebelumnya.
  “ Apa kabar pulaumu?? ”tanyanya. Membuyarkan pikiranku yang mulai liar.
 “ Sudah jadi Provinsi ” jawabku singkat.
 “ Hem “ gumamnya sembari manggut-manggut.
                Ku lihat hujan mulai reda menyisakan rentetan cerita dalam ilusi.
 “ Rima “
 “ Ya? “
 “ Terima kasih sudah mengingatku “ hatiku berdesir
 “ Tentu saja  aku tak akan lupa, kau…………….” Kemudian Rama menyela kalimatku
 “ Puisi, dan dirimu adalah penulis, kau takkan pernah melupakan aku “  aku tak tau mengapa Rama tahu apa yang hendak ku katakana tanpa ragu. Kutatap lekat matanya yang berbinar. Mencoba menyelami nada-nada hatiku yang sukar  untuk paham.
                Ketika bus yang akan ku tumpangi tiba, aku baru sadar Rama telah menghilang. Hanya sisa tetes air hujan yang tertinggal bersamaku. Argh………..mengapa kau tak kunjung percaya Rima, Rama sudah pulang ketika aku melihatnya di sini.
                                                                                                                               


                                                                                                                                                05012016

Sabtu, 22 Oktober 2016

Ilustrasi

                                                          
Kali ini aku hanya ingin bercerita sedikit tentang Capung. Analogi sederhana untuk sosok istimewa dari lembah khayal yang tak punya tepi dalam diri. Ia sesosok kesatria, mungkin pula seorang pendekar, boleh juga kau sebut malaikat atau apalah, aku pun tak tahu harus mendeskripsikannya sebagai apa bayangan itu.

Capung. Entah mengapa aku lebih suka menyebut bayangan itu Capung?? Argh… jujur saja pertama kujumpai ia bertandang ke air sungai  yang jernih nan menyegarkan  yang mengalir ke lautan dan  biasa kami sebut sungai Verlan. Siang itu aku yang menepi di dekat sungai dan menikmati nyanyian burung hutan, memergoki bayangnya yang tiba-tiba muncul dalam bias air. Dalam waktu yang sekejap ia pun kembali terbang ke angkasa dengan sayap serupa capung,  tanpa pernah bisa kukejar lantaran aku yang terpesona pada bayangnya tak punyai sepasang sayap.  Waktu itu mungkin saja aku bisa merubah wujud menjadi udara kemudian mengejarnya berhembus kencang  seperti angin, tapi aku tak bisa terlalu jauh dari air.  Sebagai penggantinya aku harus menunggunyaa kembali bertandang pada air sungai Verlan. 
Diam-diam melihatnya dari kejauhan bila ia kembali ke sungai untuk minum. Sudah barang pasti aku merasa senang. Tubuhnya tampak bercahaya biru, kulitnya putih pucat, matanya seperti bulat berlensa biru, pun dengan rambutnya yang berwarna seperti langit. Ia begitu jangkung. Aku bahkan tak ingin menampakkan diri dalam air di hadapannya, atau ia akan pergi kemudian tak kembali sebab wujudku.
    

Jumat, 07 Oktober 2016

Karang di rahim puisi


Sudah kubuang album berayap itu
tapi debunya tetap di pangkuanku
bergeming enggan berpaling

Ombak yang bernyanyi pada bika pantai
pasir yang menari pada sorak rindu
mengantar mega kemabali ke dasar samudera
tiarap dalam rima tirta
dan hari tetap saja gulita


Kamu


Mencari senyummu dalam  lembah mungkin
Tak kutemui lantaran bak mencoba menangkap angin
Merajut  keberadaanmu dalam pengap tanyaku
Seumpama nada yang mencari lagu
Seperti lorong gelap tanpa lentera
Amsal cerita yang tak ditemui tinta
Bagai bahtera tanpa samudera
Kamu,kamu, kamu
Tema yang  nyata dari  kalbu
Fakta imaji nan syahdu

Oleh karena itu kutulis ini untukmu.

我爱你 Wo ai ni


            Kicau burung pagi itu telah kembali menjadi irama serambi waktu . separuh wajah bumi kembali terang dan rerumputan yang mengasuh embunpun telah terbangun, memahkotai bumi yang saat itu tengah tersenyum pada cakrawala.
            Kursi panjang di areal taman  sudah menjamu dua tuannya yang nyaris tiap pagi menguasai pemandangan indah, menelanjangi sederetan flora yang merias diri pada cermin penikmat pesona.
            “ Kamu pernah bosan tidak Kar, setiap hari memandangi bunga yang sama dan berada di tempat yang sama?” tanya Mario tanpa memalingkan pandangannya pada gadis cantik yang menjadi lawan bicaranya di pagi sejuk itu.
            “Kenapa juga harus bosan, kalau sesuatu yang  aku pandangi setiap hari itu jelas nyata bisa  menjadikan aku merasa senang” jawab  Karla sembari menatap wajah Mario lekat dari samping. Garis lekuk wajah pemuda itupun terukir jelas di benak Karla.  Suatu kepuasan yang tidak bias ia jabarkan kalaupun haru mendeskripsikannya. Mario menghela nafas kemudian berkata “  kalau aku sih, bosan Kar. Aku pengen tempat yang berbeda. Sebuah tempat di mana aku bias mencairkan semuanya” kali ini Mario menatap Karla. Pandangan keduanyapun menyatu. Rahasia aritmi gadis di hadapan Mario begitu bergejolak dan mata gadis it uterus menyusuri lembah yang tak dimengertinya hingga dari bibir mungilnyalah sepatah kalimat
            “Ni ai wo ma?”
            Mario mengernyitkan dahi, alis tebalnya terangkat sebelah  pertanda bahwa ia tak mengerti apa yang Karla ucapkan. Namun Karla malah tertawa melihat waja Mario yang Nampak kaget dengan kalimat yang baru di ucapkannya.
            “Kamu ngomong apa tadi?” selidik Mario yang kala itu mencurigai tawa Karla setelah mengatakan kalimat itu. Sempat terbesit dalam fikirannya bahwa Karla sedang mengejeknya.
            “ Bukan apa-apa kok. Aku cuma mau bilang sesuatu yang buat aku merasa bahagia hari ini” jawa Karla dengan sisa tawanya yang berubah jadi senyum getir.  Mario masih bingung , ia merasa baru saja di bodohi Karla sahabatnya sendiri.
            “ Kamu jangan bohongin aku Kar.  Barusan kamu pake bahasa kamu, kan. Ni ai……..apa sih itu tadi?”
            Gadis bermata sipit itu hanya tersenyum. Angin di biarkannya menyibak poni yang menggantung menyembunyikan kedua alisnya yang nampak bagai bulan tanggal satu.
            “Aku gak bohongin kamu kok. Aku lagi senang aja sekarang”
            “Kenapa?”
            “Baru saja aku mengukir bintang”
            Mario tersenyum kecut “ Kamu aneh. Pagi-pagi begini mana ada bintang?” ujar Mario kemudian menggigit bibir bawahnya. Sedangkan otaknya sibuk merangkai kata yang akhir-akhir ini ingin ia sampaikan pada Karla.
            “Mario!”
            “Ya?”
            “ Kalau besok kita sama-sama dinyatakan lulus ujian nasional, aku pengen banget nanti malem kita ngadain party  khusus  buat kita berdua. Dan yang menjadi tamunya adalah bintang-bintang di langit. Cukup kita berdua serta  bintang-bintang yang mengawal  bulan yang hadir di party itu” pinta Karla sembari menatap Mario. Mata elan Mario menunjukkan tanya Karla yang kemudian di ucapkannya secara lisan.
            “Kenapa kita tidak mengundang sekelas kita saja.  Lebih seru, kan”
            “Pengen yang beda saja. Kalau kamu gak mau ya,sudah  nggak masalah”
            “ Bukan gak mau tapi aneh saja dengan ide konyolmu itu”
            “Aku janji ini yang teakhir aku minta yang aneh-aneh ke kamu setelah ini aku nggak akan minta apapun lagi ke kamu” terang Karla untuk meyaknkan. Mario masih tampk berfikir.
            “Kamu gak lagi ngajakin aku ngedate, kan?” Mariomenatap Karla meminta kepastian, namun Karla malah tertawa dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
            Nge-date kamu bilang?” Karla masih terkekeh “ Kamu mikirnya terlalu jauh, kita kan sahabatan bukan pacaran”
            Mario masih bingung, pun dengan pertanyaannya sendiri. Karla benar, ia memang terlalu  berfikir jauh. Hubungan keduanya memanglah sebatas sahabat.
            “Terserah kalau nanti malam kamu gak mau datang. Aku harap kamu gak nyesel ngelewatin malam party nanti” tukas Karla sembari tersenyum.                                                                                                                      *****
            Keesokan harinya di Sekolah para ssiswa kelas akhir dinyatakan lulus tanpa ada yang haarus mengulang. Mereka bersorak-sorak ria. Mengumandangkan kebahagiaan, saling corat coret seragam saatu saama lain, berpelukan dengan teman-teman menyatukan bahagia. Ada pula yang menangis haru karena akan berpisah dengan sahabat. Mario ikut larut dalam kebahagiaan itu. Namun tiba-tiba saja dia merasa ada yang kurang manis pada waktu kegembiraan itu melebur bersama kawan-kawannya. Karla tak ada di sana. Mario mengedarkan pandangan kemudah memilah satu persatu wajah  siswi yang sedang berkerumunan matanya terus mencari tanpa melangkahkan kaki. Objek utamanya kali ini adalah sau orang yang sangat berarti di hidupnya, Karla. Gadis berambut hitam  separuh punggung yang biasanya tergerai indah dengan satu jepitan lucu yang menghias di bagian kepala. Mario mulai bingung, ia memegang tengkuknya sembari kemudian berfikir.
tempat lain.

            Mario menepikan motornya di depan gerbang  rumah Karla. Buru-buru Mario mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Karla terlebih dulu. Beberapa detik kemudian  ia mendapat jawaban dari sebrang.
            “Iya Mar, ada apa?”
            “Sekarang kamu dimana, kok aku gak lihat kamu di Sekolah hari ini. Kamu gak lagi sakit kan? Udah tahu kabar tentang kelulusan belum, jadi gak mau buat party?” Mario langsung menjejali Karla dengan pertanyaan yang tanpa ia ketahui membuat Karla sedikit kesal dengan nadaa suaranya yang berlebihan.
            “Bawel!” ujar Karla ketus “ tumben kepo. Kamu pengen tahu aku ada di mana? Aku lagi ada di tempat anti Mario Fernandez. Dan aku gak lagi sakit”
            “ Ya ampun kar, segitunya”
            “ Udah deh.. aku lagi gak bias di ganggu sekarang, sudah ya!”

"Eits.. tunggu!! party-nya gimana?"

          “Gak aka nada party kalau kamu gak datang”
     Klik.
            Karla mematikan ponsel.
            “ Ada yang gak beres nih sama Karla. Tumben dia ketus begitu sama aku?”
                                                                        ******
            Malam itu Mario sudah siap dengan penampilannya. Kemeja hitam yang di padu dengan jas berwarna abu-abu. Mario memandang dirinya di cermin. Tak lama daari itu suara ketukan daari membuyarkan perhatiannya kemudian segera membuka pintu.
            “ Ada apa, ma?” tanya Mario begitu tahu yang mengetuk pintu adalah mamanya sendiri. Wanita paruh baya di depannya itu  sekilas memperhatikan penampilannya sembari tersenyum.
            “Mau kencan ,ya” ujar mama Mario “ rapi sekali?”
            “Bias jadi. Eh… gak, bukan.  Maksudnya Mario mau pergi ke pesta temen kok ma”
            “Pesta? Sama Nina?”
            “Gak. Malah mau pergi ke……………”
            “Di bawah ada keluarganya Nina. Kamu temenin Nina, gih. Ajak ngobrol apa gitu”
            “lho ma, Mario kan mau pergi” ucap Mario mulai kesal
            “Mario, Nina itu calon tunangan kamu. Apa salahnya Cuma nemenin Nina ngobrol,lagian keluarga Nina datang ke sini juga untuk membicarakan tentang pertunangan kalian”
            “ Ma, Mario masih baru lulus SMA, Mario masih mau kuliah ma. Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah pertunangan ?” kali ini Mario mulai marah. Dari awal ia memang tak pernah setuju dengan perjodohannya dengan Nina. Sekalipun ia mengakui akan kecantikannya yang melebihi paras Karla, sahabatnya sendiri.
            “Mario!” suara mama Mario mulai meninggi, tatapan matanya mengisyaratkan kekecewaan “ mau tidak mau kamu  harus patuh Mario.  Suka tidak suka kamu tetap harus bertunangan dengan Nina. Ini juga demi kebahagiaan kamu. Untuk yang satu ini tolong jangan kecewain mama sama papa kamu Mario”
            “Ma…”
            “Lupakan pesta itu dan temui keluarga Nina sekarang juga!” tukas mama Mario kemudian berlalu meninggalkan Mario dengan rasa kekecewaannya. Mario pun terpaksa menuruti perintah orang tuanya. Harusnya malam itu ia pergi menemui Karla. Pasti  gadis itu sangat kecewa apabila ia tidak datang. Sebelum menemui keluarga  Nina, ia berusaha  menghubungi Karla. Namun tak ada jawaban dari seberang. Mario semakin kesal. Ia tak mungkin juga pergi diam-diam untuk tak mematuhi permintaan mamanya. Sebab kesehatan kesehatan papanyalah yang akan di korbankan.
                                                                        ******
            Pagi-pagi sekali Mario pergi menemui Karla dengan mengendarai  motornya.  Sudah semenjak tadi malam gadis itu enggan menerima telephone darinya. Mungkin sekarang Karla marah besar lantaran di buat menunggu. Dan Mario tidak ingin hal itu larut.
            Tiba di rumah Karla, Mario langsung mengetuk pintu  berharap Karla sendirilah yang akan membukakan pintu. Sebentar kemudian seorang wanita paruh baya berperawakan gemuk membuka pintu. Yang tak lain adalah pembantu di rumah Karla.
            “Den Mario. Cari non Karla ya, Den?” tanyanya sembari tersenyum ramah.
            “ Iya.Karlanya ada,bi?” jawab Mario yang mulai cemas.
            “Non Karla sudah pergi, Den”
            “ Pergi ke mana bi?”
            “ Ke Beijing buat nerusin kuliahnya di sana, Den. Katanya sih, buat nemenin neneknya juga yang sudah tua di sana ,Den” Mario kembali di selimuti rasa menyesal. Setelah mengetahui bahwa Karla pergi membawa marah padanya.
            “Oh iya,Den. Saya hamper saja lupa. Tunggu sebentar  ya, Den!” ujar pembantu itu  sembari bergegas untuk mengambil titipan Karla untuk Mario. Tak lama kemudian pembantu itu kembaki dengan membawa kotak berwarna merah hati di tangannya.
            “Ini buat Den Mario, dari non Karla”
            Mario mengambil alih benda itu.
            “ Makasih bi” ucap Mario kemudian membukanya. Kotak itu berisi kertas yang terlipat rapi dan di bawahnya terdapat sebuah kain berwarna kuning yang tak lain adalah sapu tanangan yang sudah sudah di sulam dengan benang merah dan membentuk tulisan berhuruf china yang sama sekali tak di pahaminya. Mariopun segera membaca surat dari Karla dengan hati yang bergetar.

            Mario….
 Aku tak tahu caranya untuk menjelaskan perasaanku ketika bersamamu. Aku bingung untuk menguraikan  kebahagiaanku ketika berada di dekatmu. Dan aku pun yakin kau tak pernah tahu, betapa aku dibuat resah oleh tatapanmu yang membuahkan tanya dalam hati ini. Ingin rasanya untuk aku telusuri mencari  jawaban itu. Namun aku takut untuk tersesat dan terlelap dalam sesuatu yang tak mungkin antara kau dan aku.
Kau adalah sahabat terbaikku. Mungkin akan terasa berat meninggalkan semua tentang aku dan kau yang telah lalu. Dan mejadikan semuanya sebagai kenangan yang telah tertulis dalam rencana takdir. Aku akan sangat merindukanmu.
Aku minta maaf tidak memberi tahumu tentang kepergianku ke Beijing. Ku rasa itu lebih baik.
                                                          Sampai jumpa di masa depan.
                                                                   Karla   Qi

                                                ******
Tujuh tahun kemudian…………
Semenjak saat itu Mario lebih banyak diam, juga tak membantah permintaan orang tuanya. Meskipun sudah bisa menerima Nina sebagai istrinya Mario tak pernah bisa untuk melupakan untuk melupakan Karla dan segala kenangannya. Terutama tentang makna tulisan China kenangan dari Karla. Hingga sekarang Mario masih tidak tahu apa artinya. Terkadang kalimat yang pernah di ucapkan Karla masih terngiyang di telinganya. Semua barang kenangannya bersama Karla ia buang sebelum hari pernikahannya kecuali tanda tanya bagi dirinya.
“Sayang, waktu bonkar isi lemari aku nemuin sesuatu. Aku suka sama benda itu” ucap Nina sembari merapikan dasi yang di kenakan Mario.
“ Benda apa?” tanya Mario,penasaran sembari menatap istrinya.
“Sapu tangan kuning ada huruf China-nya gitu. Boleh buat aku kan sayang?” tanya Nina manja sembari memasang kancing jas Mario. Mario sempat kaget akan hal itu.
“Artinya apa?”
“Aku juga tidak tahu” jawab Mario yang mulai gusar. Kening Nina mengerut heran.
“Tapi boleh buat aku kan?” Nina mengulang pertanyaannya. Mario berfikir sejenak lalu kemudain berkata.
“Boleh, tapi kalau aku sudah tahu arti dari tulisan itu”
“Baiklah. Itu urusan mudah aku akan bantu kamu untuk tahu arti dari tulisan itu apa” kata Nina girang. Mario merasa aneh padahal sapu tangan itu benda yang sangat sederhana. Mengapa bagi Nina benda itu seperti sangat istimewa. Mungkinkah ini karna Nina tengah hamil muda.
            “ Bagaimana caranya?”tanya Mario antusias
            “Aku punya teman keturunan China. Aku akan minta bantuannya untuk menerjemahkan sulaman huruf China yang ada di sapu tangan itu padanya” jelas Nina dengan raut wajah senangnya.
                                                                    *****
            Di Restoran.
            “Segitu pentingnya sapu tangan itu buat kamu?” tanya Mario yang sedari tadi memperhatikan Nina yang nampak tak sabar menunggu temannya datang. Ia mengetuk- ngetukan jarinya di atas meja dan sesekali memperhatikan pengunjung yang datang.
            “Aku suka banget sama sulamannya, mungkin karna ngidam” jawabnya antusias. Mario hanya tersenyum  mendengarnya. Andai saja sapu tangan itu tak menyimpan misteri bagi dirinya, mungkin akan dengan mudah sapu tangan itu ia pindah tangankan.
            “Nah, itu dia” ujar Nina girang sembari melambaikan tangan pada seorang wanita jangkung, berkulit putih yang dengan anggunnya berjalan kea rah mereka.
            “Hai, maaf ya, sudah menunggu lama” ucapnya sembari melempar senyum.
            “Tidak apa-apa,. Ayo, silakan duduk” tukas Nina dengan perasaan senang, sedangkan Mario tertegun menatap wanita yang sedari tadi ditunggu oleh istrinya itu.
            “Karla kenalin ini suami aku, Mario” imbuh Nina. Sejenak Karla menatap Mario sembari tersenyum. Hatinya berdesir begitupun dengan Mario. Degup jantungnya begitu terasa.
             “ Karla” ucap Karla sembarri mengulurkan tangan seakan-akan belim pernah mengenal Mario sebelumnya. Mario menelan ludah, ia tak salah orang. Gadis itu memang benar sahabatnya, tapi mengapa dia berpura-pura tidak kenal atau mungkin dia memang sudah lupa?”
            “Mario” Mariopun segera mejabat tanganya .
            Mario lebih banyak diam hanya sesekali ia menanggapi dan memperhatikan perbincangan istrinya dengan Karla yang terlihat seperti sudah lama berteman akrab. Hati Karla benar-bena  terasa hancur kala tahu Mario telah menikah dan akan memiliki anak dari wanita yang kini menjadi temannya itu. Tanpa ia sadari bahwa sesungguhnya Mario sangat merindukannya. Andai saja malam itu Mario datang mungkin keadaannya akan berbeda. Namun sayang, kalimat di hatinya tak pernah tersampaikan dan Karla pun tak memiliki kesempatan untuk tahu begitu menyesalnya Mario tak menjadikan dirinya lebih dari seorang sahabat.
            “Oh ya, Karla. Mario punya sapu tangan bertuliskan huruf China.karena kami tidak tahu artinya apa, kami ingin minta bantuan kamu buat ngejelasin maksudnya apa?” ungkap Nina sembari menunjukkan sapu tangan kuning itu pada Karla. Betap kagetnya ia melihat sapu tangan itu. Karla masih ingat betul bahwa sapu tangan itu adalah kenang-kenangan  yang diberikannya pada Mario dan telah di sulamnya dengan setulus hati. Ia melihat kearah Mario sebentar. Mungkin ini adalah waktu yang tepat memberi tahu Mario yang sebenarnya. Walau saat ini Mario telah ada yang memiliki.
            “Kira-kira bacanya gimana dan artinya apa? Mario sudah janji padaku akan memberikan sapu tangan ini padaku karena sapu tangan ini milik Mario”  terang Nina sembari mengusap-usap sulaman pada sapu tangan itu dengan jari telunjuknya.
            “Memangnya Mario mendapatkannya dari mana?”selidik Karla berpura-pura tidak tahu. Matanya sekilas melihat kearah Mario lagi dan kemudian kepada Nina. Ada sedikit rasa kecewa melintas di hatinya lantaran Mario akan memeberikan sapu tangan itu pada orang lain.
            “ Aku memungutnya dari jalan” jawabnya dengan suara yang bergetar. Tak tahu mengapa suasana ini harus mebuatnya berdusta. Karla manggut-manggut ia meragu untuk menjelaskan rupanya Mario tidak pernah menganggap benda pemberiannya begitu istimewa.
            “ Aku memungutnya dari jalan takdirku. Pemberian dari cinta pertamaku yang tak pernah temui jalan untuk menyatu” gumam Mario dalam hati.
            Huruf China yang yang tersulam di sapu tangan itu adalah perasaannya pada Mario yang tak mudah untuk ia utarakan. Hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit yang harus ditanggapinya dengan berpura-pura  biasa-biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
            “ Kamu bisa menjelaskan arti dari tulisan ini, bukan?” tanya Nina menegaskan “ saya harap kamu bisa berkata jujur” imbuh Mario penuh harap dari surat yang di bacanya tujuh tahun yang lalu. Selama ini ia hanya mencoba menduga arti dari sulaman itu. Dan hari ini ia akan segera mengetahuinya langsung dari penyulamnya sendiri. Sulaman Karla memang bagus, gadis itu sudah bisa menyulam semenjak usia tujuh tahun. Mario begitu yakin kalau Karla menyulamnya dengan sesuatu yang tak biasa dalam hatinya. Sesuatu yang rahasia untuk sahabat.
            Karla menghela nafas panjang, ia mencoba menegarkan hati dan menahan agar air mata tak turut hadir.
            “Yang ini bacanya WO, artinya aku.” Karla mulai menjelaskan satu persatu-satu sembari menunjukkan huruf China yang tertera. Nina mengangguk paham sedangkan mata Mario tanpa berkedip memperhatikannya.
            “Yang ini bacanya AI, artinya cinta. Sedangkan yang ini bacanya NI, artinya kamu” tatapan Karla beralih pada Mario yang sedari tadi menatapnya.
            “Jadi kalau digabung artinya AKU CINTA KAMU”

                                                                                    Sumenep, 17 Maret 2015
           
           



           

           


Gerimis Gelebah

                                                           
            Surabaya semakin gemerlap. Tidakkah kau ingin menyapaku walau hanya dengan sepatah kata saja? Polusi kota tak terlihat, bertebran kian kemari. Jalanan kota tampak ramai, sedang kita sedang asyik saling pandang di bawah tugu jangkar  raksasa yang menjadi tempat bergulat patung  dua hewan   lambang kota ini. Kau tetap diam, aku mengalihkan pandangan pada kepulan kopi panas  di genggamanku. Sesekali aku  menggigit ujung bibirku sendiri, menunggu kau untuk bicara. Mungkin kau tidak tahu kalau aku sedang mengatur nafasku, mencoba sedikit tenang dengan pertemuan kali ini. Kau masih diam. Tidakkah kau melihat langit yang menaungi kita tengah kelabu. Mendung.
            Aku coba menata perasaanku sendiri. Berharap aku tak menampakkan diri, kalau aku begitu bahagia bisa bertemu denganmu. Aku bahkan takut bertingkah bodoh di hadapanmu. Angin berhembus lembut. Kau tetap diam. Haruskah aku yang memulai lebih dulu memulai percakapan dalam dingin malam kali ini?. Detik tetap berlalu. Aku menelan ludah. Menunggu kau bicara.
            “Kamelliya” ucapmu memecah hening di antara kita. Akhirnya aku mendengar suaramu yang selama ini hanya sempat aku terka lewat imajinasi saja. Kita sudah lama tak bertemu, tentu aku lupa bagaimana suaramu.  Aku menoleh, kembali memandang wajahmu  yang teduh. Sambil lalu menjelajahi sinar matamu yang masih sama seperti enam tahun yang lalu. Di masa remaja kita yang telah berlalu “Bagaiamana kabarmu hari ini?” tanyamu yang bersamaan dengan suara Guntur yang seakan  sedang   memperingati kita untuk tak berdiam di tempat ini.
            Aku tersenyum tipis “Baik” jawabku singkat “Lalu, kau sendiri?  Bagaimana rasanya hidup di tanah rantau, Karel?”
            Rasanya sudah kelu ketika lidahku menyebut namamu. Apalagi ini di hadapanmu langsung. Degupku makin tak karuan, tapi kau terlihat begitu tenang dengan pertemuan ini. Seperti biasa saja. Tanpa kesan.
            Senyummu mengembang. Aku memilih mengalihkan pandangan pada rerumputan lalu  menyesap kopi panasku. Takut aku malah bersikap konyol karena senyummu itu. kau pun mengalihkan pandangan pada awn mendung di atas kita.
            Kau kembali memandangku dengan senyum itu “Di sini aku menciptakan arusku yang lebih baik, Kamelliya” ujarmu sembari menyebut namaku lagi “Tapi terkadang aku merasa semua yang indah berubah jadi ruang hampa”  kau menghela nafas sejenak lalu kembali berkata “Aku butuh jiwa seseorang untuk membawaku pulang” kali ini aku  mulai menatapmu  lebih lama saat kau berkta begitu. Tanpa sadar  ingin tahu siapa seseorang itu? “Pulang ke tempat di mana aku akan merasa nyaman tanpa perlu ada rindu. Pulang pada tempat di mana aku bisa melebur menjadi apa adanya diriku tanpa ruang hampa saat bernafas pada tepian gemerlap yang aku pijaki” jelasmu sembari menatap metaku dalam. Tatapan kita terserobok dan perlahan ingatanku membuka cerita saat di mana kita tak berani saling menatap, seperti saat ini. Masa di mana aku tak mengerti apa arti dari degupku ketika melihatmu dari dekat atau pun jauh.
Angin berhembus pelan. Aku tersadar dari lamunanku dalam tatap kita. Dengan segera aku mengalihkan pandangan. Lalu tiba-tiba gerimis pun turun dengan cepat menjadi hujan. Buru-buru aku beranjak dari perjamuan ini, sedang kau  masih tetap tenang dengan hujan yang mengguyurmu.
“Kamelliya!” serumu, memanggilku “Apakah kau ingin tahu siapa ia?” tanyamu dengan suara yang nyaris tenggelam dalam gemericik hujan. Aku menghentikan langkah lalu menoleh ke arahmu. Namun tiba-tiba semua telah berubah menjadi keramaian di alun-alun kota. Semua orang bersuka cita merayakan kemenangan sembari menikmati malam takbiran yang gaduh dengan suara petasan berwarna-warni di angkasa.
Aku tersadar. Ini bukan Surabaya tempat di mana tadi kita berbicara. Tapi Madura, tempat di mana  aku dilahirkan sekaligus membayangkan hadirmu saja.  Arhg…rindu itu menjebakku. Lalu, di mana tempat kutemukan jawabannya “kau ‘kah masa depan itu?”
                                                                                   


Sumenep ,05 Juli2016
            

Selasa, 04 Oktober 2016

Jam Dinding

Tak cukup pada pukul tujuh
semenjak menit ke-dua belas
pada ruang yang rapuh
tetap ia pandang bingkai sebuah paras
mengembara, dengan berjuta rasa
nan kian menguasa


Bila detik enggan mengangguk
'kan tak terdengar lagi nyanyian sang pungguk
lapuk berkarat di ambang dermaga
pada jeladri yang berjelaga


24-25 September 2016

PETUAH MENTARI


Namaku adalah Senja, aku terlahir sebagai gadis yang lahir dengan satu kaki. Menjalani kehidupan penuh cela. Kurasa di dunia ini tak ada yang mencintaiku kecuali, Mentari kakak kandungku. Ia selalu menghiburku, disetip ku bersedih yang terkadang juga disebabkan oleh cemohan ibu dan ayah yang tak menyukaiku karena aku cacat.
Suatu hari, di perjalanan pulang sekolah, awan menjadi mendung disertai dengan Guntur pertanda akan turun hujan. Tetes demi tetes air jatuh dari langit, semakin deras mengguyur tubuh mungilku, sedangku hanya berjalan kaki dengan satu tongkat sebagai pengganti kakiku yang buntung ini. Inginku rasanya aku cepat sampai di rumah, namun karena keterbataasan ini jalanku lamban. Tak seperti teman-temanku yang lain, mengendarai sepeda menerobos hujan yang semakin menjadi-jadi, hingga tak jarang mereka sengaja membuat bajuku kotor dengan melintasi genangan air saat mendahuluiku. Lalu mereka tertawa senang melihatku kotor terkena cipratan air. Aku hanya bisa pasrah, aku tak mungkin melawan mereka dalam keadaan seperti ini. Tibanya di rumah ibu memarahiku habis-habisan karena bajuku yang kotor bahkan tak segan ibu memukuliku. Dan di saaat itulah Mentari, kakakku datang, melindungiku dari amukan ibu.
“Cukup bu. Kasihan Senja, dia kedinginan. Biarkan dia mengganti bajunya dulu” kata Mentari sembari memeluk tubuhku yang kotor. Aku hanya menangis kala itu.
“Ibu berhentilah mencemoh senja! Dia adikku dan dia anak ibu” kata Mentari, berusaha untuk menyadarkan ibu. Namun ibu tak menggubris ucapan Mentari, ibu selalu mengabaikan aku sebagai anaknya.
@@@
            Usai berganti baju, aku masih menangis di kamar, terisak tanpa suara meratapi kekuranganku. Kadang aku marah pada Tuhan kenapa Dia menciptakan aku berbeda, dan mengapa pula aku terlahir kedunia jika hanya untuk menangis. Tiba-tiba saja.
Krekkk…
            Kakakku datang dengan membawa teh hangat untukku. Aku segera menghapus air mata ini. Mentari mendekatiku, lalu ikut serta menghapus air mata pilu ini. Sial, aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku pada mentari.
“Tak usah bersedih, tak perlu kau menangis, air mata memang mampu luapkan kesedihan hati, namun tak akan pernah bisa mengubah takdir yang kau jalani….” Kata mentari sembari tersenyum. Ia mencoba menghiburku dengan kata-kata mutiara yang selau ia katakana pada ku. Dai selalu memotifasiku kalau aku bersedih seperti ini. Dia adalah kakak yang memiliki hati bak malaikat.
“Minumlah teh hangat ini dulu. Nanti sore kalau hujan mereda kakak akan memabawamu ke pantai untuk melihat senja” lanjutnya kemudian sembari menyodorkan segelas teh padaku yang kemudian kuhabiskan isinya.
@@@
            Dapatku rasakan dinginya angin laut menerpa tubuh ini. Di pantai ini telah kulihat keindahan senja sebagai penutup hari ku yang kelam. Merah meganya memabuatku tenang. Sungguh aku Tuhan, menciptakan cakrawala berpanorama indah itu.
“Indah bukan....?” ucap Mentari semabri tersenyum, aku hanya mengangguk pelan. Lalu ku berkata “kenapa kakak mengajakku untuk melihat senja??” dan kakaku mulai menjawab “agar kamu tahu betapa indah senja, betapa banyak orang yang mencitai senja, sebab senja adalah pintu dari hadirnya malam menutup hari ini, mengantarkan jiwa yang lelah mengantarkannya pada hari esok setelah sejenak beristirahat. Keindahan senja akan melekat pada hati orang yang melihatnya. Ketahuilah Senja, keindahan seseorang bukan dilihat dari fisik melainkan dari hati yang dicerminkan lewat perbuatannya sekalipun mereka menghina kekuranganmu, berbuat baiklah pada mereka. Jangan jadi dendam. Pecayalah mereka akan menyayangimu.” Aku hanya diam mendengarkan petuah mentari. Dia mengajari ku banyak hal yang tak kupahami semuanya.
            Hari mulai meredup. Kami berduapun pulang.
@@@
Malam harinya ketika ku hendak mengerjakan PR. Aku merasa kesulitan untuk mengerjakannya. Akuputuskan untuk memnemui kakak yang bisa membantuku mengerjakan PR disaat-saat seperti ini. Ku ketuk kamar Mentari, tak ada jawaban darinya. Akhriya aku buka pintu kamar Mentari. Kudapati dia sedang berbaring lemah. Perlahan aku mendekatinya karena dia belum tidur, dia tersnyum melihatku.
“Apakah kamu membutuhkan bantuan kakak?” tanyanya berusaha beringsut, duduk.
“Kakak kenapa? Kakak sakit ya..?” tanyaku pada Mentari “Tidak. Sini duduk disebelah kakak!” pinta Mentari dengan matanya yang tampak sayu. Dia masih menyunggingkan senyum kepadaku. PRku sudah hampir selasai berkat bantuan Mentari. Namun betapa kagetnya aku ditengah-tengah mengerjakanya, setetes cairan merah menodai lembaran bukuku. Kupandangi wajah Mentari yang pucat. Hidungnya mengeluarkan darah.
“Kakak!” kataku hawatir, Mentari segera membersihkan darah dihidungnya. Ia tutupi dengan bagian bawah kerudung yang sedang dikenakannya.
“Tak apa, teruskan PRmu!” ucap mentari. Namun kerudungnya semakin kotor oleh darah. Aku semakin panik dengan keadaannya aku putuskan untuk memanggil ibu. Sekeras mungkin aku berteriak memanggil ibu dan ayah. Merekapun datang.
“Senja! Kamu ini menggangu ibu dan bapak saja. Berteriak malam-malam. Ini rumah bukan lapangan. Lagi pula kamu ngapain di kamar mentari. Kasihan dia, kakakmu itu lagi tidur” omel ayah kepadaku sembari melototi “pak, Mentari pak. Penyakitnya kambuh” kata ibu memperhatikan wajah Mentari “sana kamu minggir! anak pembawa sial” ucap ibu kepadaku, akupun bangkit dari dudukku dengan bantuan tongkat pengganti kakiku yang buntung. Kulihat ibu dan ayah sangatlah khawatir. Kemudian ayah memanggilkan seorang dokter. Sedang Mentari semakin lemah. Ibu menangis melihat mentari, seakan-akan takut kehilangannya.
Baru aku tau selama ini Mentari mengidap leukimia setelah dokter memeriksa keadaannya. Ku dekati Mentari, namun bapak menyuruhku pergi menjauh darinya. Mentari kembali menatapku bisu. Matanya tampak menangis, aku tak tega melihatnya. Tak terasa air mata ini terjatuh. Ayah dan ibu makin terisak. Entah ada apa dengan Mentari “Senja, kemarilah!” pinta ayah yang masih menangis. Akupun mendekat dan duduk di sebelah Mentari, dia tersnyum padaku. “kakak” ujarku yang kemudian memeluk Mentari yang terbaring lemah tanganya membelai tanganku pelan. Kuraskan hangatnya persaudaraan di sana. Air mata ini masih mengalir. Begitu pula dengan orang tuaku yang terisak. “Kakak menyayangimu” bisik Mentari. Kulepas peluk hangat ini. Dia masih tersenyum. Kulihat matanya mulai meredup hingga tak dapat lagi kulihat sinar sayu matanya. Dokter segera mengecek denyut nadi Mentari dan juga detak jantungnya. “Bagaimana doter?” tanya ibu panik. Dokter masih diam, sejenak dia menarik nafas dan kemudian berkata “putri ibu dan bapak sudah tidak ada. Sabar ya pak, bu” jelas sang dokter dengan wajah turut berduka cita. Kini malam terakhirku melihat Mentari. Sekarang ia sudah tertidur pulas untuk kembali pada Tuhan. Selamat jalan saudariku.
@@@
            Kesokan harinya seusai pemakaman, duka masih menyelimuti keluargaku. Aku terdiam menatap pusara kakakku, Mentari. Kegundahan yang kurasakan kini. Dan ku bertanya dalam hati siapa yang akan menghiburku saat sedih nanti? Sedangkan sesosok Mentari telah pergi meninggalkanku. Kuterinagt kembali pada petuahnya, ku teringat lagi akan senyumnya yang penuh makna. Air mataku kemabli berlinang. “Ayo nak kita pulang!” ajak ayah dengan nada bicara yang tak lagi kasar padaku. “Senja, maafin ibu nak karena ibu tak pernah menjadi ibu yang baik untukmu. Ibu selalu menghinamu dan ibu selalu menyakiti persaanmu” kata ibu terisak semabari memeluk tubuhku. Oh Tuhan baru kali ini aku merasakan dipeluk ibu, tak dapat lagi kutahan lagi air mata haru ini. Akupun membalas pelukan ibu erat. “bapak juga minta maaf nak. Bapak selalu memarahimu karena keadaanmu yang seperti ini. Maafkan bapak yang selalu membanding-bandingkanmu dengan Mentari” bapak terus terisak memelukku. Mungkin hatinya telah terbuka untuk menerimaku. Oh Tuhan, betapa bahagianya aku saat ini. Andai saja Mentari masih ada, pasti dia akan bahagia melihat ibu dan ayah mulai menerima aku sebagai anaknya.
@@@
          Jangan katakana pada dunia bahwa kau tidak sempurna. Tapi ajaklah dunia agar memperhatikanmu lebih dari seorang yang sempurna.
            Sepuluh tahun telah berlalu. Sejak peristiwa itu aku tak lagi menjadi cemohan orang-orang dan kedua orang tuaku selalu membelaku saat mereka mencemohku dan berkat motifasi dan dukungan mereka kini aku telah menjadi penulis sukses dari kisah mereka yang terlupakanyang terlupakan seperti diriku dulu. Ku coba menjadi motifator bagi mereka yang merasa pesimis dalam menjalani hidup karena keterbatasan yang mereka miliki. Seperti yang dilakukan Mentari padaku dulu. Terima kasih Mentari, petuahmu kini menjadi kebahagiaan untukku. Mereka menyanyangiku, mereka mencintaiku dan  tak ada lagi cemohan untukku. Lihatlah sekarang, ayah dan ibu tengah memelukku di tengah keindahan senja yang mengantarkan Mentari pada peraduaanya untuk menutup hari yang lelah. Menutup kisah hari ini untuk membuka lembaran hidup di hari esok.
Terima kasih Mentari, Senja selalu merindukan petuah darimu