Flag Counter

Sabtu, 05 November 2016

Percakapan dalam gelombang


Sore itu bukan untuk pertama kalinya dua gadis pesisir sedang bercakap di tepi pantai. Menunggu senja, menikmati angin jeladri yang menyibak  mesra rambut panjang keduanya yang sedang duduk beralas pasir. Debur ombak yang terhempas pada karang terdengar begitu syahdu mengiringi cengkrama dua gadis pulau yang tengah pulang kampung setelah lama di kota rantau.
“Rif, gelombang pantai ini masih sama, bukan?” ucap si gadis bermata cokelat sembari memandang lepas ke arah lautan “Aku sering berandai-andai, bahwasanya bukan hanya kau dan aku yang akan menikmati pantai ini, tapi juga lelaki dari pulau sebrang”
“Ah, cerita ini masih saja kau lanjutkan, padahal aku sudah susah payah menyimpannya untukku sendiri, Zun” tukas Rif dengan nada suara yang gundah. “ Aku sedang tidak ingin berandai-andai. Karena aku masih punya keyakinan dia hanya sedang mengembara sebelum akhirnya kembali pulang padaku”
“Ya, aku tahu kisah ini berbeda, Rif. Tapi setidaknya aku bisa mengabadikan perasaan ini untuk kebahagiaanku sendiri  yang seumpama pungguk” tukas Zun sembari mengulum senyum pada riak pantai. “Kau pun tahu bagaimana aku yang teramat gila pada cerita ini, tertawa dalam luka sembari berdansa dengan rupa yang tak berwujud, bernyanyi dengan irama hujan yang membendung sungai di wajahku” terang Zun, kemudian menatap Rif yang mendengkan celotehnya. Sinar mega  tak jemu memukau samudra yang pantulkan bias jingganya. Seiring dengan menuanya merebahnya cerita, dua gadis itu masih saja bercakap perihal yang sama.
“Apalah kita ini? kita sama-sama jatuh cinta pada lelaki lain pulau, tapi entah dengan siapa kelak kita berpegang tangan habiskan masa?” wajah itu kembali hadir di benak Rif. Lelaki yang pernah jadi kekasihnya, sekaligus orang yang memenjarakan diri dalam lubuk hati rapuhnya.
“Kadang aku berpikir, bodohkah aku yang berharap lebih? Sedangkan rasaku tak kunjung sirna. Oleh sebab itu aku berteriak dalam sajak yang kuhanyutkan kemaren petang, biar ia samapi di kaki langit lalu tertulis di awan. Biar rinduku melebur bersama hujan, lalu hujan mendekapnya untukku di seberang pulau sana” untuk kesekian kalinya imajinasi Zun mengembara begitu jauhnya. Bahkan ia tak mengerti apa yang baru saja ia katakana. Rif mengernyit sembari membatin ah...rupanya gadis ini telah terkena racun, padahal aku sudah pernah bilang agar ia tak jadi pengarang biar akalnya tetap waras”
“Sudahlah, Zun... toh hidup ini bukan kita yang punya. Katanya perempuan itu takdirnya hanya menunggu saja. Ya...tapi bila kau mampu, tiru saja tindakan Khadijah bin Khuailid yang lebih dulu melamar rasul”  tukas Rif yang kemudian terkekeh dengan omongannya sendiri, sembari berandai hal itu pun Zun lakukan.
“Sudah” jawab Zun dengan wajah sendu, sama seperti Rif sebelum ia menertawakan dirinya. “Aku sudah berulang kali menulis surat padanya, setiap hari jadinya aku menulis surat untuknya. Aku mengiriminya kado berupa sajak dan untaian do’a yang aku kirim ke langit”
Rif mengernyit mafhum. Apa gerangan yang melanda Zun? Cinta macam apa yang ia punya untuk seseorang yang masih dalam halimun itu?
“Hari ini berulang tahun, Rif… usianya makin berkurang. Bahkan aku tak tahu kapan akan dipertemukan kembali dengannya tanpa sengaja? Di usia ke berapakah itu? Ia bahkan tak sempat membalas suratku. Apa mungkin do’aku di hari ulang tahunnya tertahan di langit?”
Rif… mengusap-usap pundak Zun, mata gadis itu dilihatnya berkaca-kaca dengan wajah harap yang teramat sangat. Khayalan Rif mengembara pada kisahnya sendiri, bagaimana ia bilang bahwaa dirinya rapuh bila karibnya sendiri lebih menyayat? Lebih-lebih ia pernah menyayangkan singgahnya si pencuri hati yang dirasanya telah menyayat hati, padahal ia sendiri yang membuat kesalahan. Argh…. Cemburu itu bak petaka dalam cinta kalau-kalau dibawa gelap mata. Selalu saja membakar hatinya, berbeda dengan Zun, yang cintanya telah menjadi karang hingga buatnya begitu gila. Kenapa pula beberapa waktu lalu ia bilang pada Zun kalau seuatu yang  kuat pasti ada yang bisa menghancurkan, sedang hati Zun yang tercabik saja masih tegar hingga hari ini semenjak 10 tahun perjalan mencari jawab atas pesan yang melesat ke langit. Ah… nyatanya takdir Tuhan memang harus sesap agar kita mampu untuk mengerti. Tapi kenapa cinta itu tulus bila jika yang dicinta tak tulus? Rif memang harus berbohong bahwa ia baik-baik saja sementara, ia harus bersusah payah lupa akan kekasihnya yang telas berdua.
Wajah lelaki itu tanpa sadar menguasai pikiran Rif.
Mengaku baik-baik saja dengan keputusanku, itu adalah kebohongan. Namun setidaknya setidaknya aku memberikan kemerdekaan yang sempurna pada hatimu, aku tidak akan lagi mengaku cinta tapi kau harus mengerti bahwa aku masih cinta”[1]








[1] Rif’atul Faizah, facebook kronologi

1 komentar: