Flag Counter

Jumat, 07 Oktober 2016

Gerimis Gelebah

                                                           
            Surabaya semakin gemerlap. Tidakkah kau ingin menyapaku walau hanya dengan sepatah kata saja? Polusi kota tak terlihat, bertebran kian kemari. Jalanan kota tampak ramai, sedang kita sedang asyik saling pandang di bawah tugu jangkar  raksasa yang menjadi tempat bergulat patung  dua hewan   lambang kota ini. Kau tetap diam, aku mengalihkan pandangan pada kepulan kopi panas  di genggamanku. Sesekali aku  menggigit ujung bibirku sendiri, menunggu kau untuk bicara. Mungkin kau tidak tahu kalau aku sedang mengatur nafasku, mencoba sedikit tenang dengan pertemuan kali ini. Kau masih diam. Tidakkah kau melihat langit yang menaungi kita tengah kelabu. Mendung.
            Aku coba menata perasaanku sendiri. Berharap aku tak menampakkan diri, kalau aku begitu bahagia bisa bertemu denganmu. Aku bahkan takut bertingkah bodoh di hadapanmu. Angin berhembus lembut. Kau tetap diam. Haruskah aku yang memulai lebih dulu memulai percakapan dalam dingin malam kali ini?. Detik tetap berlalu. Aku menelan ludah. Menunggu kau bicara.
            “Kamelliya” ucapmu memecah hening di antara kita. Akhirnya aku mendengar suaramu yang selama ini hanya sempat aku terka lewat imajinasi saja. Kita sudah lama tak bertemu, tentu aku lupa bagaimana suaramu.  Aku menoleh, kembali memandang wajahmu  yang teduh. Sambil lalu menjelajahi sinar matamu yang masih sama seperti enam tahun yang lalu. Di masa remaja kita yang telah berlalu “Bagaiamana kabarmu hari ini?” tanyamu yang bersamaan dengan suara Guntur yang seakan  sedang   memperingati kita untuk tak berdiam di tempat ini.
            Aku tersenyum tipis “Baik” jawabku singkat “Lalu, kau sendiri?  Bagaimana rasanya hidup di tanah rantau, Karel?”
            Rasanya sudah kelu ketika lidahku menyebut namamu. Apalagi ini di hadapanmu langsung. Degupku makin tak karuan, tapi kau terlihat begitu tenang dengan pertemuan ini. Seperti biasa saja. Tanpa kesan.
            Senyummu mengembang. Aku memilih mengalihkan pandangan pada rerumputan lalu  menyesap kopi panasku. Takut aku malah bersikap konyol karena senyummu itu. kau pun mengalihkan pandangan pada awn mendung di atas kita.
            Kau kembali memandangku dengan senyum itu “Di sini aku menciptakan arusku yang lebih baik, Kamelliya” ujarmu sembari menyebut namaku lagi “Tapi terkadang aku merasa semua yang indah berubah jadi ruang hampa”  kau menghela nafas sejenak lalu kembali berkata “Aku butuh jiwa seseorang untuk membawaku pulang” kali ini aku  mulai menatapmu  lebih lama saat kau berkta begitu. Tanpa sadar  ingin tahu siapa seseorang itu? “Pulang ke tempat di mana aku akan merasa nyaman tanpa perlu ada rindu. Pulang pada tempat di mana aku bisa melebur menjadi apa adanya diriku tanpa ruang hampa saat bernafas pada tepian gemerlap yang aku pijaki” jelasmu sembari menatap metaku dalam. Tatapan kita terserobok dan perlahan ingatanku membuka cerita saat di mana kita tak berani saling menatap, seperti saat ini. Masa di mana aku tak mengerti apa arti dari degupku ketika melihatmu dari dekat atau pun jauh.
Angin berhembus pelan. Aku tersadar dari lamunanku dalam tatap kita. Dengan segera aku mengalihkan pandangan. Lalu tiba-tiba gerimis pun turun dengan cepat menjadi hujan. Buru-buru aku beranjak dari perjamuan ini, sedang kau  masih tetap tenang dengan hujan yang mengguyurmu.
“Kamelliya!” serumu, memanggilku “Apakah kau ingin tahu siapa ia?” tanyamu dengan suara yang nyaris tenggelam dalam gemericik hujan. Aku menghentikan langkah lalu menoleh ke arahmu. Namun tiba-tiba semua telah berubah menjadi keramaian di alun-alun kota. Semua orang bersuka cita merayakan kemenangan sembari menikmati malam takbiran yang gaduh dengan suara petasan berwarna-warni di angkasa.
Aku tersadar. Ini bukan Surabaya tempat di mana tadi kita berbicara. Tapi Madura, tempat di mana  aku dilahirkan sekaligus membayangkan hadirmu saja.  Arhg…rindu itu menjebakku. Lalu, di mana tempat kutemukan jawabannya “kau ‘kah masa depan itu?”
                                                                                   


Sumenep ,05 Juli2016
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar