Surabaya
semakin gemerlap. Tidakkah kau ingin menyapaku walau hanya dengan sepatah kata
saja? Polusi kota tak terlihat, bertebran kian kemari. Jalanan kota tampak
ramai, sedang kita sedang asyik saling pandang di bawah tugu jangkar raksasa yang menjadi tempat bergulat patung dua hewan lambang
kota ini. Kau tetap diam, aku mengalihkan pandangan pada kepulan kopi panas di genggamanku. Sesekali aku menggigit ujung bibirku sendiri, menunggu kau
untuk bicara. Mungkin kau tidak tahu kalau aku sedang mengatur nafasku, mencoba
sedikit tenang dengan pertemuan kali ini. Kau masih diam. Tidakkah kau melihat
langit yang menaungi kita tengah kelabu. Mendung.
Aku
coba menata perasaanku sendiri. Berharap aku tak menampakkan diri, kalau aku begitu
bahagia bisa bertemu denganmu. Aku bahkan takut bertingkah bodoh di hadapanmu.
Angin berhembus lembut. Kau tetap diam. Haruskah aku yang memulai lebih dulu
memulai percakapan dalam dingin malam kali ini?. Detik tetap berlalu. Aku
menelan ludah. Menunggu kau bicara.
“Kamelliya”
ucapmu memecah hening di antara kita. Akhirnya aku mendengar suaramu yang
selama ini hanya sempat aku terka lewat imajinasi saja. Kita sudah lama tak
bertemu, tentu aku lupa bagaimana suaramu. Aku menoleh, kembali memandang wajahmu yang teduh. Sambil lalu menjelajahi sinar
matamu yang masih sama seperti enam tahun yang lalu. Di masa remaja kita yang
telah berlalu “Bagaiamana kabarmu hari ini?” tanyamu yang bersamaan dengan
suara Guntur yang seakan sedang memperingati kita untuk tak berdiam di tempat
ini.
Aku
tersenyum tipis “Baik” jawabku singkat “Lalu, kau sendiri? Bagaimana rasanya hidup di tanah rantau,
Karel?”
Rasanya
sudah kelu ketika lidahku menyebut namamu. Apalagi ini di hadapanmu langsung.
Degupku makin tak karuan, tapi kau terlihat begitu tenang dengan pertemuan ini.
Seperti biasa saja. Tanpa kesan.
Senyummu
mengembang. Aku memilih mengalihkan pandangan pada rerumputan lalu menyesap kopi panasku. Takut aku malah
bersikap konyol karena senyummu itu. kau pun mengalihkan pandangan pada awn
mendung di atas kita.
Kau
kembali memandangku dengan senyum itu “Di sini aku menciptakan arusku yang
lebih baik, Kamelliya” ujarmu sembari menyebut namaku lagi “Tapi terkadang aku
merasa semua yang indah berubah jadi ruang hampa” kau menghela nafas sejenak lalu kembali
berkata “Aku butuh jiwa seseorang untuk membawaku pulang” kali ini aku mulai menatapmu lebih lama saat kau berkta begitu. Tanpa
sadar ingin tahu siapa seseorang itu?
“Pulang ke tempat di mana aku akan merasa nyaman tanpa perlu ada rindu. Pulang
pada tempat di mana aku bisa melebur menjadi apa adanya diriku tanpa ruang
hampa saat bernafas pada tepian gemerlap yang aku pijaki” jelasmu sembari
menatap metaku dalam. Tatapan kita terserobok dan perlahan ingatanku membuka
cerita saat di mana kita tak berani saling menatap, seperti saat ini. Masa di
mana aku tak mengerti apa arti dari degupku ketika melihatmu dari dekat atau
pun jauh.
Angin
berhembus pelan. Aku tersadar dari lamunanku dalam tatap kita. Dengan segera
aku mengalihkan pandangan. Lalu tiba-tiba gerimis pun turun dengan cepat
menjadi hujan. Buru-buru aku beranjak dari perjamuan ini, sedang kau masih tetap tenang dengan hujan yang
mengguyurmu.
“Kamelliya!”
serumu, memanggilku “Apakah kau ingin tahu siapa ia?” tanyamu dengan suara yang
nyaris tenggelam dalam gemericik hujan. Aku menghentikan langkah lalu menoleh
ke arahmu. Namun tiba-tiba semua telah berubah menjadi keramaian di alun-alun
kota. Semua orang bersuka cita merayakan kemenangan sembari menikmati malam
takbiran yang gaduh dengan suara petasan berwarna-warni di angkasa.
Aku
tersadar. Ini bukan Surabaya tempat di mana tadi kita berbicara. Tapi Madura,
tempat di mana aku dilahirkan sekaligus
membayangkan hadirmu saja. Arhg…rindu
itu menjebakku. Lalu, di mana tempat kutemukan jawabannya “kau ‘kah masa depan
itu?”
Sumenep ,05 Juli2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar