Flag Counter

Sabtu, 22 Oktober 2016

Ilustrasi

                                                          
Kali ini aku hanya ingin bercerita sedikit tentang Capung. Analogi sederhana untuk sosok istimewa dari lembah khayal yang tak punya tepi dalam diri. Ia sesosok kesatria, mungkin pula seorang pendekar, boleh juga kau sebut malaikat atau apalah, aku pun tak tahu harus mendeskripsikannya sebagai apa bayangan itu.

Capung. Entah mengapa aku lebih suka menyebut bayangan itu Capung?? Argh… jujur saja pertama kujumpai ia bertandang ke air sungai  yang jernih nan menyegarkan  yang mengalir ke lautan dan  biasa kami sebut sungai Verlan. Siang itu aku yang menepi di dekat sungai dan menikmati nyanyian burung hutan, memergoki bayangnya yang tiba-tiba muncul dalam bias air. Dalam waktu yang sekejap ia pun kembali terbang ke angkasa dengan sayap serupa capung,  tanpa pernah bisa kukejar lantaran aku yang terpesona pada bayangnya tak punyai sepasang sayap.  Waktu itu mungkin saja aku bisa merubah wujud menjadi udara kemudian mengejarnya berhembus kencang  seperti angin, tapi aku tak bisa terlalu jauh dari air.  Sebagai penggantinya aku harus menunggunyaa kembali bertandang pada air sungai Verlan. 
Diam-diam melihatnya dari kejauhan bila ia kembali ke sungai untuk minum. Sudah barang pasti aku merasa senang. Tubuhnya tampak bercahaya biru, kulitnya putih pucat, matanya seperti bulat berlensa biru, pun dengan rambutnya yang berwarna seperti langit. Ia begitu jangkung. Aku bahkan tak ingin menampakkan diri dalam air di hadapannya, atau ia akan pergi kemudian tak kembali sebab wujudku.
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar