Kali
ini aku hanya ingin bercerita sedikit tentang Capung. Analogi sederhana untuk
sosok istimewa dari lembah khayal yang tak punya tepi dalam diri. Ia sesosok
kesatria, mungkin pula seorang pendekar, boleh juga kau sebut malaikat atau apalah,
aku pun tak tahu harus mendeskripsikannya sebagai apa bayangan itu.
Capung.
Entah mengapa aku lebih suka menyebut bayangan itu Capung?? Argh… jujur saja
pertama kujumpai ia bertandang ke air sungai yang jernih nan menyegarkan yang mengalir ke lautan dan biasa kami sebut sungai Verlan. Siang itu aku
yang menepi di dekat sungai dan menikmati nyanyian burung hutan, memergoki
bayangnya yang tiba-tiba muncul dalam bias air. Dalam waktu yang sekejap ia pun
kembali terbang ke angkasa dengan sayap serupa capung, tanpa pernah bisa kukejar lantaran aku yang
terpesona pada bayangnya tak punyai sepasang sayap. Waktu itu mungkin saja aku bisa merubah wujud
menjadi udara kemudian mengejarnya berhembus kencang seperti angin, tapi aku tak bisa terlalu jauh
dari air. Sebagai penggantinya aku harus
menunggunyaa kembali bertandang pada air sungai Verlan.
Diam-diam
melihatnya dari kejauhan bila ia kembali ke sungai untuk minum. Sudah barang
pasti aku merasa senang. Tubuhnya tampak bercahaya biru, kulitnya putih pucat,
matanya seperti bulat berlensa biru, pun dengan rambutnya yang berwarna seperti
langit. Ia begitu jangkung. Aku bahkan tak ingin menampakkan diri dalam air di
hadapannya, atau ia akan pergi kemudian tak kembali sebab wujudku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar