Namaku adalah Senja, aku terlahir sebagai gadis yang lahir dengan
satu kaki. Menjalani kehidupan penuh cela. Kurasa di dunia ini tak ada yang
mencintaiku kecuali, Mentari kakak kandungku. Ia selalu menghiburku, disetip ku
bersedih yang terkadang juga disebabkan oleh cemohan ibu dan ayah yang tak
menyukaiku karena aku cacat.
Suatu hari, di perjalanan pulang sekolah, awan menjadi mendung
disertai dengan Guntur pertanda akan turun hujan. Tetes demi tetes air jatuh
dari langit, semakin deras mengguyur tubuh mungilku, sedangku hanya berjalan
kaki dengan satu tongkat sebagai pengganti kakiku yang buntung ini. Inginku
rasanya aku cepat sampai di rumah, namun karena keterbataasan ini jalanku
lamban. Tak seperti teman-temanku yang lain, mengendarai sepeda menerobos hujan
yang semakin menjadi-jadi, hingga tak jarang mereka sengaja membuat bajuku
kotor dengan melintasi genangan air saat mendahuluiku. Lalu mereka tertawa
senang melihatku kotor terkena cipratan air. Aku hanya bisa pasrah, aku tak mungkin
melawan mereka dalam keadaan seperti ini. Tibanya di rumah ibu memarahiku
habis-habisan karena bajuku yang kotor bahkan tak segan ibu memukuliku. Dan di
saaat itulah Mentari, kakakku datang, melindungiku dari amukan ibu.
“Cukup
bu. Kasihan Senja, dia kedinginan. Biarkan dia mengganti bajunya dulu” kata
Mentari sembari memeluk tubuhku yang kotor. Aku hanya menangis kala itu.
“Ibu
berhentilah mencemoh senja! Dia adikku dan dia anak ibu” kata Mentari, berusaha
untuk menyadarkan ibu. Namun ibu tak
menggubris ucapan Mentari, ibu selalu mengabaikan aku sebagai anaknya.
@@@
Usai berganti baju, aku masih
menangis di kamar, terisak tanpa suara meratapi kekuranganku. Kadang aku marah
pada Tuhan kenapa Dia menciptakan aku berbeda, dan mengapa pula aku terlahir kedunia
jika hanya untuk menangis. Tiba-tiba saja.
Krekkk…
Kakakku
datang dengan membawa teh hangat untukku. Aku segera menghapus air mata ini.
Mentari mendekatiku, lalu ikut serta menghapus air mata pilu ini. Sial, aku tak
bisa menyembunyikan kesedihanku pada mentari.
“Tak
usah bersedih, tak perlu kau menangis, air mata memang mampu luapkan kesedihan
hati, namun tak akan pernah bisa mengubah takdir yang kau jalani….” Kata
mentari sembari tersenyum. Ia mencoba menghiburku dengan kata-kata mutiara yang
selau ia katakana pada ku. Dai selalu memotifasiku kalau aku bersedih seperti
ini. Dia adalah kakak yang memiliki hati bak malaikat.
“Minumlah
teh hangat ini dulu. Nanti sore kalau hujan mereda
kakak akan memabawamu ke pantai untuk melihat senja” lanjutnya kemudian sembari menyodorkan segelas
teh padaku yang kemudian kuhabiskan isinya.
@@@
Dapatku
rasakan dinginya angin laut menerpa tubuh ini. Di pantai ini telah kulihat
keindahan senja sebagai penutup hari ku yang kelam. Merah meganya memabuatku
tenang. Sungguh aku Tuhan, menciptakan cakrawala berpanorama indah itu.
“Indah bukan....?” ucap Mentari semabri tersenyum, aku
hanya mengangguk pelan. Lalu ku berkata “kenapa kakak mengajakku untuk melihat
senja??” dan kakaku mulai menjawab “agar kamu tahu betapa indah senja, betapa
banyak orang yang mencitai senja, sebab senja adalah pintu dari hadirnya malam
menutup hari ini, mengantarkan jiwa yang lelah mengantarkannya pada hari esok
setelah sejenak beristirahat. Keindahan senja akan melekat pada hati orang yang
melihatnya. Ketahuilah Senja, keindahan seseorang bukan dilihat dari fisik
melainkan dari hati yang dicerminkan lewat perbuatannya sekalipun mereka
menghina kekuranganmu, berbuat baiklah pada mereka. Jangan jadi dendam.
Pecayalah mereka akan menyayangimu.” Aku hanya diam mendengarkan petuah
mentari. Dia mengajari ku banyak hal yang tak kupahami semuanya.
Hari
mulai meredup. Kami berduapun pulang.
@@@
Malam harinya ketika ku hendak mengerjakan PR.
Aku merasa kesulitan untuk mengerjakannya. Akuputuskan untuk memnemui kakak
yang bisa membantuku mengerjakan PR disaat-saat seperti ini. Ku ketuk kamar
Mentari, tak ada jawaban darinya. Akhriya aku buka pintu kamar Mentari.
Kudapati dia sedang berbaring lemah. Perlahan aku mendekatinya karena dia belum
tidur, dia tersnyum melihatku.
“Apakah kamu membutuhkan bantuan kakak?”
tanyanya berusaha beringsut, duduk.
“Kakak kenapa? Kakak sakit ya..?” tanyaku pada
Mentari “Tidak. Sini duduk disebelah kakak!” pinta Mentari dengan matanya yang
tampak sayu. Dia masih menyunggingkan senyum kepadaku. PRku sudah hampir
selasai berkat bantuan Mentari. Namun betapa kagetnya aku ditengah-tengah
mengerjakanya, setetes cairan merah menodai lembaran bukuku. Kupandangi wajah Mentari
yang pucat. Hidungnya mengeluarkan darah.
“Kakak!” kataku hawatir, Mentari segera
membersihkan darah dihidungnya. Ia tutupi dengan bagian bawah kerudung yang
sedang dikenakannya.
“Tak apa, teruskan PRmu!” ucap mentari. Namun
kerudungnya semakin kotor oleh darah. Aku semakin panik dengan keadaannya aku
putuskan untuk memanggil ibu. Sekeras mungkin aku berteriak memanggil ibu dan
ayah. Merekapun datang.
“Senja! Kamu ini menggangu ibu dan bapak saja.
Berteriak malam-malam. Ini rumah bukan lapangan. Lagi pula kamu ngapain di
kamar mentari. Kasihan dia, kakakmu itu lagi tidur” omel ayah kepadaku sembari
melototi “pak, Mentari pak. Penyakitnya kambuh” kata ibu memperhatikan wajah
Mentari “sana kamu minggir! anak pembawa sial” ucap ibu kepadaku, akupun
bangkit dari dudukku dengan bantuan tongkat pengganti kakiku yang buntung.
Kulihat ibu dan ayah sangatlah khawatir. Kemudian ayah memanggilkan seorang
dokter. Sedang Mentari semakin lemah. Ibu menangis melihat mentari, seakan-akan
takut kehilangannya.
Baru aku tau selama ini Mentari mengidap
leukimia setelah dokter memeriksa keadaannya. Ku dekati Mentari, namun bapak
menyuruhku pergi menjauh darinya. Mentari kembali menatapku bisu. Matanya
tampak menangis, aku tak tega melihatnya. Tak terasa air mata ini terjatuh.
Ayah dan ibu makin terisak. Entah ada apa dengan Mentari “Senja, kemarilah!”
pinta ayah yang masih menangis. Akupun mendekat dan duduk di sebelah Mentari,
dia tersnyum padaku. “kakak” ujarku yang kemudian memeluk Mentari yang
terbaring lemah tanganya membelai tanganku pelan. Kuraskan hangatnya persaudaraan
di sana. Air mata ini masih mengalir. Begitu pula dengan orang tuaku yang
terisak. “Kakak menyayangimu” bisik Mentari. Kulepas peluk hangat ini. Dia
masih tersenyum. Kulihat matanya mulai meredup hingga tak dapat lagi kulihat
sinar sayu matanya. Dokter segera mengecek denyut nadi Mentari dan juga detak
jantungnya. “Bagaimana doter?” tanya ibu panik. Dokter masih diam, sejenak dia
menarik nafas dan kemudian berkata “putri ibu dan bapak sudah tidak ada. Sabar
ya pak, bu” jelas sang dokter dengan wajah turut berduka cita. Kini malam
terakhirku melihat Mentari. Sekarang ia sudah tertidur pulas untuk kembali pada
Tuhan. Selamat jalan saudariku.
@@@
Kesokan
harinya seusai pemakaman, duka masih menyelimuti keluargaku. Aku terdiam
menatap pusara kakakku, Mentari. Kegundahan yang kurasakan kini. Dan ku
bertanya dalam hati siapa yang akan menghiburku saat sedih nanti? Sedangkan
sesosok Mentari telah pergi meninggalkanku. Kuterinagt kembali pada petuahnya,
ku teringat lagi akan senyumnya yang penuh makna. Air mataku kemabli berlinang.
“Ayo nak kita pulang!” ajak ayah dengan nada bicara yang tak lagi kasar padaku.
“Senja, maafin ibu nak karena ibu tak pernah menjadi ibu yang baik untukmu. Ibu
selalu menghinamu dan ibu selalu menyakiti persaanmu” kata ibu terisak semabari
memeluk tubuhku. Oh Tuhan baru kali ini aku merasakan dipeluk ibu, tak dapat
lagi kutahan lagi air mata haru ini. Akupun membalas pelukan ibu erat. “bapak
juga minta maaf nak. Bapak selalu memarahimu karena keadaanmu yang seperti ini.
Maafkan bapak yang selalu membanding-bandingkanmu dengan Mentari” bapak terus
terisak memelukku. Mungkin hatinya telah terbuka untuk menerimaku. Oh Tuhan,
betapa bahagianya aku saat ini. Andai saja Mentari masih ada, pasti dia akan
bahagia melihat ibu dan ayah mulai menerima aku sebagai anaknya.
@@@
Jangan
katakana pada dunia bahwa kau tidak sempurna. Tapi ajaklah dunia agar
memperhatikanmu lebih dari seorang yang sempurna.
Sepuluh tahun telah berlalu. Sejak
peristiwa itu aku tak lagi menjadi cemohan orang-orang dan
kedua orang tuaku selalu membelaku saat
mereka mencemohku dan berkat motifasi dan dukungan mereka kini aku telah
menjadi penulis sukses dari kisah mereka yang terlupakanyang terlupakan seperti
diriku dulu. Ku coba menjadi motifator bagi mereka yang merasa pesimis dalam menjalani hidup
karena keterbatasan yang mereka miliki. Seperti yang dilakukan Mentari padaku
dulu. Terima kasih Mentari, petuahmu kini menjadi kebahagiaan untukku. Mereka
menyanyangiku, mereka mencintaiku dan
tak ada lagi cemohan untukku. Lihatlah sekarang, ayah dan ibu tengah
memelukku di tengah keindahan senja yang mengantarkan Mentari pada peraduaanya
untuk menutup hari yang lelah. Menutup kisah hari ini untuk membuka lembaran
hidup di hari esok.
Terima
kasih Mentari, Senja selalu merindukan petuah darimu
Keren ... Keep writing and be the best
BalasHapusTerima kasih..
HapusBuat dukungannya
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus