Flag Counter

Selasa, 04 Oktober 2016

PETUAH MENTARI


Namaku adalah Senja, aku terlahir sebagai gadis yang lahir dengan satu kaki. Menjalani kehidupan penuh cela. Kurasa di dunia ini tak ada yang mencintaiku kecuali, Mentari kakak kandungku. Ia selalu menghiburku, disetip ku bersedih yang terkadang juga disebabkan oleh cemohan ibu dan ayah yang tak menyukaiku karena aku cacat.
Suatu hari, di perjalanan pulang sekolah, awan menjadi mendung disertai dengan Guntur pertanda akan turun hujan. Tetes demi tetes air jatuh dari langit, semakin deras mengguyur tubuh mungilku, sedangku hanya berjalan kaki dengan satu tongkat sebagai pengganti kakiku yang buntung ini. Inginku rasanya aku cepat sampai di rumah, namun karena keterbataasan ini jalanku lamban. Tak seperti teman-temanku yang lain, mengendarai sepeda menerobos hujan yang semakin menjadi-jadi, hingga tak jarang mereka sengaja membuat bajuku kotor dengan melintasi genangan air saat mendahuluiku. Lalu mereka tertawa senang melihatku kotor terkena cipratan air. Aku hanya bisa pasrah, aku tak mungkin melawan mereka dalam keadaan seperti ini. Tibanya di rumah ibu memarahiku habis-habisan karena bajuku yang kotor bahkan tak segan ibu memukuliku. Dan di saaat itulah Mentari, kakakku datang, melindungiku dari amukan ibu.
“Cukup bu. Kasihan Senja, dia kedinginan. Biarkan dia mengganti bajunya dulu” kata Mentari sembari memeluk tubuhku yang kotor. Aku hanya menangis kala itu.
“Ibu berhentilah mencemoh senja! Dia adikku dan dia anak ibu” kata Mentari, berusaha untuk menyadarkan ibu. Namun ibu tak menggubris ucapan Mentari, ibu selalu mengabaikan aku sebagai anaknya.
@@@
            Usai berganti baju, aku masih menangis di kamar, terisak tanpa suara meratapi kekuranganku. Kadang aku marah pada Tuhan kenapa Dia menciptakan aku berbeda, dan mengapa pula aku terlahir kedunia jika hanya untuk menangis. Tiba-tiba saja.
Krekkk…
            Kakakku datang dengan membawa teh hangat untukku. Aku segera menghapus air mata ini. Mentari mendekatiku, lalu ikut serta menghapus air mata pilu ini. Sial, aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku pada mentari.
“Tak usah bersedih, tak perlu kau menangis, air mata memang mampu luapkan kesedihan hati, namun tak akan pernah bisa mengubah takdir yang kau jalani….” Kata mentari sembari tersenyum. Ia mencoba menghiburku dengan kata-kata mutiara yang selau ia katakana pada ku. Dai selalu memotifasiku kalau aku bersedih seperti ini. Dia adalah kakak yang memiliki hati bak malaikat.
“Minumlah teh hangat ini dulu. Nanti sore kalau hujan mereda kakak akan memabawamu ke pantai untuk melihat senja” lanjutnya kemudian sembari menyodorkan segelas teh padaku yang kemudian kuhabiskan isinya.
@@@
            Dapatku rasakan dinginya angin laut menerpa tubuh ini. Di pantai ini telah kulihat keindahan senja sebagai penutup hari ku yang kelam. Merah meganya memabuatku tenang. Sungguh aku Tuhan, menciptakan cakrawala berpanorama indah itu.
“Indah bukan....?” ucap Mentari semabri tersenyum, aku hanya mengangguk pelan. Lalu ku berkata “kenapa kakak mengajakku untuk melihat senja??” dan kakaku mulai menjawab “agar kamu tahu betapa indah senja, betapa banyak orang yang mencitai senja, sebab senja adalah pintu dari hadirnya malam menutup hari ini, mengantarkan jiwa yang lelah mengantarkannya pada hari esok setelah sejenak beristirahat. Keindahan senja akan melekat pada hati orang yang melihatnya. Ketahuilah Senja, keindahan seseorang bukan dilihat dari fisik melainkan dari hati yang dicerminkan lewat perbuatannya sekalipun mereka menghina kekuranganmu, berbuat baiklah pada mereka. Jangan jadi dendam. Pecayalah mereka akan menyayangimu.” Aku hanya diam mendengarkan petuah mentari. Dia mengajari ku banyak hal yang tak kupahami semuanya.
            Hari mulai meredup. Kami berduapun pulang.
@@@
Malam harinya ketika ku hendak mengerjakan PR. Aku merasa kesulitan untuk mengerjakannya. Akuputuskan untuk memnemui kakak yang bisa membantuku mengerjakan PR disaat-saat seperti ini. Ku ketuk kamar Mentari, tak ada jawaban darinya. Akhriya aku buka pintu kamar Mentari. Kudapati dia sedang berbaring lemah. Perlahan aku mendekatinya karena dia belum tidur, dia tersnyum melihatku.
“Apakah kamu membutuhkan bantuan kakak?” tanyanya berusaha beringsut, duduk.
“Kakak kenapa? Kakak sakit ya..?” tanyaku pada Mentari “Tidak. Sini duduk disebelah kakak!” pinta Mentari dengan matanya yang tampak sayu. Dia masih menyunggingkan senyum kepadaku. PRku sudah hampir selasai berkat bantuan Mentari. Namun betapa kagetnya aku ditengah-tengah mengerjakanya, setetes cairan merah menodai lembaran bukuku. Kupandangi wajah Mentari yang pucat. Hidungnya mengeluarkan darah.
“Kakak!” kataku hawatir, Mentari segera membersihkan darah dihidungnya. Ia tutupi dengan bagian bawah kerudung yang sedang dikenakannya.
“Tak apa, teruskan PRmu!” ucap mentari. Namun kerudungnya semakin kotor oleh darah. Aku semakin panik dengan keadaannya aku putuskan untuk memanggil ibu. Sekeras mungkin aku berteriak memanggil ibu dan ayah. Merekapun datang.
“Senja! Kamu ini menggangu ibu dan bapak saja. Berteriak malam-malam. Ini rumah bukan lapangan. Lagi pula kamu ngapain di kamar mentari. Kasihan dia, kakakmu itu lagi tidur” omel ayah kepadaku sembari melototi “pak, Mentari pak. Penyakitnya kambuh” kata ibu memperhatikan wajah Mentari “sana kamu minggir! anak pembawa sial” ucap ibu kepadaku, akupun bangkit dari dudukku dengan bantuan tongkat pengganti kakiku yang buntung. Kulihat ibu dan ayah sangatlah khawatir. Kemudian ayah memanggilkan seorang dokter. Sedang Mentari semakin lemah. Ibu menangis melihat mentari, seakan-akan takut kehilangannya.
Baru aku tau selama ini Mentari mengidap leukimia setelah dokter memeriksa keadaannya. Ku dekati Mentari, namun bapak menyuruhku pergi menjauh darinya. Mentari kembali menatapku bisu. Matanya tampak menangis, aku tak tega melihatnya. Tak terasa air mata ini terjatuh. Ayah dan ibu makin terisak. Entah ada apa dengan Mentari “Senja, kemarilah!” pinta ayah yang masih menangis. Akupun mendekat dan duduk di sebelah Mentari, dia tersnyum padaku. “kakak” ujarku yang kemudian memeluk Mentari yang terbaring lemah tanganya membelai tanganku pelan. Kuraskan hangatnya persaudaraan di sana. Air mata ini masih mengalir. Begitu pula dengan orang tuaku yang terisak. “Kakak menyayangimu” bisik Mentari. Kulepas peluk hangat ini. Dia masih tersenyum. Kulihat matanya mulai meredup hingga tak dapat lagi kulihat sinar sayu matanya. Dokter segera mengecek denyut nadi Mentari dan juga detak jantungnya. “Bagaimana doter?” tanya ibu panik. Dokter masih diam, sejenak dia menarik nafas dan kemudian berkata “putri ibu dan bapak sudah tidak ada. Sabar ya pak, bu” jelas sang dokter dengan wajah turut berduka cita. Kini malam terakhirku melihat Mentari. Sekarang ia sudah tertidur pulas untuk kembali pada Tuhan. Selamat jalan saudariku.
@@@
            Kesokan harinya seusai pemakaman, duka masih menyelimuti keluargaku. Aku terdiam menatap pusara kakakku, Mentari. Kegundahan yang kurasakan kini. Dan ku bertanya dalam hati siapa yang akan menghiburku saat sedih nanti? Sedangkan sesosok Mentari telah pergi meninggalkanku. Kuterinagt kembali pada petuahnya, ku teringat lagi akan senyumnya yang penuh makna. Air mataku kemabli berlinang. “Ayo nak kita pulang!” ajak ayah dengan nada bicara yang tak lagi kasar padaku. “Senja, maafin ibu nak karena ibu tak pernah menjadi ibu yang baik untukmu. Ibu selalu menghinamu dan ibu selalu menyakiti persaanmu” kata ibu terisak semabari memeluk tubuhku. Oh Tuhan baru kali ini aku merasakan dipeluk ibu, tak dapat lagi kutahan lagi air mata haru ini. Akupun membalas pelukan ibu erat. “bapak juga minta maaf nak. Bapak selalu memarahimu karena keadaanmu yang seperti ini. Maafkan bapak yang selalu membanding-bandingkanmu dengan Mentari” bapak terus terisak memelukku. Mungkin hatinya telah terbuka untuk menerimaku. Oh Tuhan, betapa bahagianya aku saat ini. Andai saja Mentari masih ada, pasti dia akan bahagia melihat ibu dan ayah mulai menerima aku sebagai anaknya.
@@@
          Jangan katakana pada dunia bahwa kau tidak sempurna. Tapi ajaklah dunia agar memperhatikanmu lebih dari seorang yang sempurna.
            Sepuluh tahun telah berlalu. Sejak peristiwa itu aku tak lagi menjadi cemohan orang-orang dan kedua orang tuaku selalu membelaku saat mereka mencemohku dan berkat motifasi dan dukungan mereka kini aku telah menjadi penulis sukses dari kisah mereka yang terlupakanyang terlupakan seperti diriku dulu. Ku coba menjadi motifator bagi mereka yang merasa pesimis dalam menjalani hidup karena keterbatasan yang mereka miliki. Seperti yang dilakukan Mentari padaku dulu. Terima kasih Mentari, petuahmu kini menjadi kebahagiaan untukku. Mereka menyanyangiku, mereka mencintaiku dan  tak ada lagi cemohan untukku. Lihatlah sekarang, ayah dan ibu tengah memelukku di tengah keindahan senja yang mengantarkan Mentari pada peraduaanya untuk menutup hari yang lelah. Menutup kisah hari ini untuk membuka lembaran hidup di hari esok.
Terima kasih Mentari, Senja selalu merindukan petuah darimu

3 komentar: